wajib baca buku ini: UNTUK INDONESIA YANG KUAT (Ligwina Hananto)

April 28, 2011

       let me go straight

saya bukan fans Robert Kiyosaki (but I think the 4 quadrant is a good thinking)

saya tidak terpesona dengan ide-ide “financial freedom” seperti yang didengung-dengungkan banyak  pakar luar negeri maupun dalam negeri.

menurut saya agak ironis mengejar kemerdekaan finansial sambil mengejar materi dan kekayaan duniawi.

satu-satunya cara  mendapatkan  kemerdekaan finansial adalah dengan berhenti mengikuti keinginan duniawi. menjadi yogi. menjalani tahap wanaprastha, biksukha. maybe i am wrong, but that’s me.

saya pernah mengikuti seminar/sharing Ligwina yang berjudul Menabung Saja Tidak Cukup        (diadakan di tempat kerja saya dulu) .

it was good, but not stellar

tapi buku ini berbeda.

this is a rare gems, a masterpiece. please read this book.

I don’t know Ligwina personally, so I don’t have obligation to say anything good if it is not.

Kenapa wajib membaca buku ini?

1. Buku ini ditulis dengan passion yang menderu-deru untuk sebuah visi yang luar biasa kuat dan genuine.

Luar biasa!

Saya tidak pernah menduga bahwa ide perencanaan keuangan bisa dihubungkan dengan ide besar membangun golongan menengah Indonesia. Tapi itu sangat benar (setelah saya baca sampai habis buku ini) dan saya sangat setuju. Golongan menengah yang punya potensi besar untuk keluar kemiskinan bisa menjadi lokomotif buat nasion kita.

Dalam dua tahun terakhir, ini adalah buku ketiga yang bisa membakar saya… buku pertama adalah Linchpin karya Seth Godin, dan buku kedua adalah Your Job is not Your Career karya Rene Suhardono.

2. Simple dan praktikal: common senses can be common practices

Dalam perjalanan hidup ini, saya sampai pada tahap yang mulai menghargai hal-hal simpel, gampang dicerna dan bisa diterapkan. Buku ini memberikan argumentasi kenapa kenapa kita kaum muda golongan menengah harus berubah dan memberikan cara/contoh yang mudah diterapkan. Bahkan Ligwina memberikan 100 langkah rencana aksi keuangan.

Saya kutip 7 langkah pertama (sisanya baca bukunya yaaaa – capek nih ngetik):

  1. Memiliki penghasilan
  2. Memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan
  3. Pergi ke ATM seminggu sekali saja
  4. Mengerti cara kerja kartu kredit
  5. Utang kartu kredit lunas setiap bulan
  6. Membayar pajak dan melaporkan SPT
  7. Punya rencana keuangan sederhana buatan sendiri

3.  Mengingatkan tentang pemberdayaan lingkungan sekitar

Buku ini juga membangunkan saya akan satu hal penting. Bahkan jika kita sudah mulai cukup kuat fondasi keuangannya, mulailah melihat saudara kita, teman, para asisten rumah tangga, supir kita. Bisakah kita membantu mengangkat mereka? Misalnya memberi beasiswa anak supir kita atas penghargaan terhadap kesetiaan dan kerja kerasnya? Bisakah kita membantu Mbak di rumah agar gaji bulananya tidak habis untuk membeli pulsa tapi menjadi sesuatu yang lebih berguna?

Menjadi penting menurut saya untuk mengajak teman, keluarga dan kolega saya untuk membaca buku ini dan yang terpenting, mulai melaksanakannya.

notes:

saat menceritakan tentang buku ini sekilas di kelas yang saya ajar tadi pagi, para peserta training meminta saya membawa buku ini ke kelas.


your job is to improve and optimize the whole system (versi bisnis)

April 27, 2011

menurut saya, masalah terbesar dari bisnis/organisasi sekarang ini adalah “rabun” dalam melihat the big picture.

dalam kesibukan sehari-hari, banyak manajemen dan karyawan lupa hakikat mereka sebagai suatu  SYSTEM dalam bentuk perusahaan.

suatu perusahaan seharusnya punya tujuan akhir: memberi layanan & produk memuaskan kepada nasabah sehingga nasabah puas dan memberi keuntungan kepada perusahaan itu yang dalam jangka panjang perusahaan akan terus berkembang dan memberi manfaat buat masyarakat sekitarnya. Ini sebuah visi, sebuah big picture.

Perusahaan  merupakan sebuah system, karena terdiri dari rangkaian proses, team dan aktivitas menuju kepada satu tujuan. Rangkaian proses, team, dan aktivitas misalnya berupa: Marketing, Sales, Risk Management, Financial, Operations, Human Resouce, dll.

Asumsi mendasar organisasi sekarang ini: setiap team harus bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai target masing-masing, maka perusahaan akan dengan sendirinya akan mencapai hasil terbaik. Betul?

SALAH!

Kenapa salah? Karena perusahaan adalah sebuah orkestra, harus selalu diingatkan bahwa setiap pemain bergerak dan bermain dalam sebuah kerangka lagu yang diatur oleh konduktor.

Sebuah perusahaan adalah sebuah permainan team seperti sepakbola; setiap orang mempunyai peran seperti halnya penyerang, gelandang, kiper dalam rangka bermain cantik, fair dan MENANG.

Jika penyerang hanya berpikir untuk menyarangkan goal ke gawang lawan (tanpa peduli pemain lain), kiper hanya berpikir untuk menangkap atau menangkis bola dari lawan (tanpa peduli pemain lain), maka inilah yang disebut SUBOPTIMIZATION.

Tidak peduli jika penyerang menyarangkan bola 5 goal ke gawang lawan, jika kiper kebobolan 6 goal, maka team tetap saja kalah. Siapa yang salah? It does not matter.  Kalah ya kalah.

Bagaimana ini terjadi di bisnis?

Team Marketing akan berusaha mencapai target penjualan setinggi-tingginya, oleh karena itu mereka butuh dana tinggi dan proses yang serba cepat yang kalau perlu tabrak aturan sedikit-sedikit (tabrak yang banyak kalau lebih nekat lagi) karena itulah target sebagai team.

Team Finance akan berusaha menekan biaya serendah-rendahnya agar perusahaan bisa mempunyai keuntungan besar dan cash-flow yang cukup karena itulah target sebagai team.

Team Operations akan berusaha meningkatkan produktivitas setinggi-tinginya, menekan biaya operasi serendah-rendahnya karena itulah target sebagai team.

Team Risk Management berusaha membuat policy dan aturan seketat-ketatnya agar portfolio punya kualitas sebagus-bagusnya karena itulah target sebagai team.

Dalam pandangan yang sekilas, semua hal diatas adalah lumrah

namun ada satu yang hilang…WHERE’S THE CUSTOMER IN THAT PICTURE? WHERE”S THE LONG TERM VISION TO SATISFY CUSTOMERS PROFITABLY.

Saat team marketing ingin mencapai target penjualan setinggi-tingginya, budget dan profit akan terkuras habis dan banyak masuk nasabah-nasabah yang tidak layak yang mengakibatkan buruknya performance portfolio. Oleh karena itu, bagian Finance akan menekan budget seketat-ketatnya yang akan menyebabkan team Marketing sulit untuk beraktivitas plus ditambah aturan-aturan baru yang makin ketat dari Risk Management. Dalam semua lini, akan terjadi efek “saling meniadakan effort” satu sama lain. Kesibukan yang terjadi adalah lingkaran setan SUB OPTIMIZATION yang mengakibatkan perusahaan jalan ditempat atau terus menurun kinerjanya.

Akibatnya: perusahaan tidak kemana-mana dan nasabah tidak happy.

Bisnis adalah permainan team, system oriented game. Bukan sekumpulan orang bermain bowling.

Your job is to improve and optimize the whole system. Tugas anda adalah untuk memberikan WOW kepada customer dan memberi keuntungan kepada perusahaan.


apa inti ajaran Deming?

April 21, 2011

bagian kedua dari trilogi tulisan tentang Deming dan relevansi ajarannya di masa sekarang.

Deming dikenal sebagai Bapak Quality sejak berhasil membawa Jepang bangkit sejak awal tahun 1950-an, dan (baru) disadari di Amerika kehebatannya di tahun 1980-an.

Yang menarik adalah, apa yang dia yakini dan ajarkan di Jepang  di tahun 1950 masih sangat relevan di masa kini. Mungkin apa yang diajarkan dulu itu, sekarang bukanlah sesuatu yang layak disebut ilmu baru. Namun kenyataannya sampai sekarang, tidak banyak yang mempraktikannya.

Inilah inti ajaran Deming, dan lihatlah betapa simpel dan aktualnya ajaran ini buat Indonesia di masa sekarang (remember, simple does not always mean easy). This common senses can be common practices. Just need commitment and discipline


alasan untuk customer focus & improve quality: SURVIVAL

April 21, 2011

Menyambung posting sebelumnya tentang pengaruh Deming terhadap kebangkitan industri Jepang banyak juga yang memberi komentar bahwa problem jaman sekarang ini adalah inovasi dan marketing, bukannya “operations management” seperti quality management yang menjadi pemikiran utama Deming.

Saya akan menjawab komentar itu ke dalam tiga tulisan,  yang pertama akan saya jelasakan disini.

Revolusi perbaikan sistem produksi dan quality management di tahun 1950-an, pada awalnya bukanlah didasarkan pada keinginan untuk memperbaiki produksi semata.

Pada awalnya, para ilmuwan dan insinyur Jepang (yang tergabung dalam JUSE), risau akan neraca perdagangan Jepang yang saat itu sangat negatif, artinya impor jauh lebih besar dari ekspor.  Sebagai negara yang tidak punya sumber daya alam terlalu banyak, jalan satu-satunya adalah mengekspor produk Jepang ke luar negeri lebih banyak dari sumberdaya yang mesti diimpor.

Dengan produksi berkualitas buruk dan juga tidak menciptakan barang yang diinginkan customer, para ilmuwan dan insinyur Jepang sangat sadar bahwa kelangsungan industri dan ekonomi mereka ada di ambang bahaya. Jadi pemikiran QualityManagement dan Customer Focus yang diajarkan oleh Deming semua berawal dari masalah dasar manusia: SURVIVAL.

Bagaimana dengan Indonesia sekarang di tahun 2011? Enampuluh tahun setelah Jepang “tercerahkan”…

Bagaimana meningkatkan daya saing Indonesia dalam Doing Business in Indonesia 2012? Data Doing Business in Indonesia 2011 menunjukkan Indonesia ada di urutan 121dari 183 negara turun dibanding tahun 2010 (115).

Dari situs yang sama, ditunjukkan bahwa untuk memulai suatu bisnis di Indonesia, butuh waktu 47 hari. Bandingkan dengan negara yang lebih maju yang hanya butuh rata-rata 14 hari?

In summary, apa yang diajarkan oleh Deming adalah suatu metodologi survival sebagai suatu organisasi (bisnis maupun public services). Customer focus dan quality improvement bukanlah hanya tentang operations tapi lebih mendasar yakni kelangsungan hidup dan competitiveness.


inovasi BCA customer service

April 18, 2011

hari ini saya mengamati suatu inovasi baru dari pelayanan Bank BCA (setidaknya ini baru saya alami hari ini, dan pertama kali di dunia banking Indonesia).

setelah memelopori “friendly Satpam” (dulu satpam kan bener-bener kayak patung penjaga gerbang) dan CS agents yang “solution oriented”, hari ini saya melihat dan mengalami bahwa BCA sekarang mempunyai satu orang PIC (person in charge) yang khusus mendatangi nasabah yang sedang menunggu dipanggil.

PIC ini membawa standard form dan menanyakan keperluan/masalah nasabah lalu menuliskan di form tersebut.  Form itu kita serahkan ke CS agents saat kita dipanggil sehingga waktu kita menunggu tidak terbuang percuma dan CS agents bisa langsung mengambil action. Pengalaman di BCA hari ini benar-benar efektif dan tidak bertele-tele tanpa mengurangi ketelitian mereka mencocokkan buku tabungan  dengan tanda tangan di KTP saya (notes: saya datang ke CS BCA karena kartu ATM saya tertelan di sebuah mall malam sebelumnya).

Cara kerja ini mengingatkan saya dengan buku Lean Solutions karangan James Womack, tentang melihat segala sesuatu sebagai sebuah proses dan berusaha terus menerus meningkatkan valued added time untuk kepuasan nasabah. PIC yang bertugas menanyai para nasabah yang sedang antri, dalam Lean concept, dikenal dengan nama “water spider”, dan BCA secara simpel dan jitu menerapkan secara efektif.

Common sense can be common practice 🙂

Bravo!


Deming and the rise of Japan

April 16, 2011

I personally think this is a GREAT story (and become my inspiration too).

A true understanding of customer, system, theory of variance, people, and management to create the best product/service CAN elevate a nation.


the two great Ed in my life (and the coming of the third Ed)

April 14, 2011

there are two Ed who have great influences to me. Both are very different in personality (I guess) but they have similarity in the sense of how I could not remember a day in the last 10 years without thinking anyone of them (actually, for the one Ed, this year is exactly 20 years I have known him – in voices and pictures).

the first Ed is W. Edwards Deming, whose principle in System of Profound Knowledge has become my generator of my passion in process improvement (in which I’ve chosen to become my career, not just a job ). His principle and thinking are beyond the age (only compete with Peter Drucker, I think) and it is more relevant today compared to  the 1950s when he taught Japanese engineers and executives the first time. His tangible legacy would be Japan’s leading companies today.

the second Ed is Eddie Vedder, the lead singer of Pearl Jam. The band whose music, lyrics, idealism and independence have determined the path I decide to take as a grown up. I put more respects to Pearl Jam  vs.  all religious leaders in my country, if I may show you how I put them in my heart. This band has never failed to make me stand up whenever I got knocked down by any situation.

Now, I have the third Ed, who will be the greatest Ed of all…for me and family