Osama, JI, NII dan mengapa”terorisme” masih akan jadi topik dalam jangka waktu panjang

dalam 2 minggu terakhir ini, headline berbagai berita nasional dan juga internasional adalah “terorisme”.

internasional:  Pemerintah US menyatakan telah berhasil menewaskan Osama Bin Laden

nasional: terungkapnya jaringan “teroris” baru yang berencana meledakkan jalur pipa gas di Serpong serta pelaku bom bunuh diri di Cirebon

Hal ini, terus terang saja, membuat saya sangat khawatir jika pola yang sama kita terus lakukan tanpa melakukan pemikiran yang lebih mendalam.

Saya mencoba melihat hal ini dari sisi “terorisme” dan “kontra terorisme” sebagai sebuah system. Tulisan inipun sebenarnya pernah ditulis dalam bahasa Inggris, dan sekali lagi pemikiran ini sebenarnya dibahas oleh Peter Senge dalam The Fifth Discipline.

Dari sudut pandang “system thinking“, cara pemberantasan teroris oleh pemerintah Indonesia dan US merupakan sebuah cara yang sangat logis tapi simplistik. Yang diobati adalah gejalanya, bukan penyebab penyakitnya. Suatu solusi yang melegakan mayoritas orang dalam jangka pendek, tapi akan menjadi sumber masalah baru yang jauh lebih besar dalam jangka panjang.

Sehingga, yang terjadi adalah suatu pola yang mengakibatkan

the harder you push, the harder they push back”.

Dan ini cukup membuat saya khawatir, bukannya lega.

Kenapa?

Mari kita lihat permasalahan ini dari dua kacamata: kacamata pemerintah Indonesia (ataupun US) dan kacamata “teroris”

Dari kaca mata pemerintah, setiap aksi teroris adalah ancaman terhadap kedaulatan negara, oleh karena itu harus ditangani segera dan seagresif/semaksimum mungkin (lihat Pic 1).


Dari kaca mata kelompok “teroris”, semakin agresif serangan dan tindakan pemerintah, berarti tantangan terhadap perjuangan dan keyakinan mereka.

Sebagai reaksi logis, mereka harus memperbaiki organisasi, meningkatkan recruitment dan meningkatkan metode penyerangan untuk meningkatkan impak serangan secara signifikan. Lihat Pic 2.

Dari kaca mata masing-masing pihak, semua yang mereka lakukan adalah reaksi LOGIS terhadap aksi pihak “musuh”. Namun, tanpa disadari kita telah membentuk sebuah lingkaran setan kekerasan, yang menjadi bola salju sehingga permasalahan makin membesar dan tak berkesudahan seperti digambarkan Pic 3.

Sebagai seorang yang benar-benar awam dalam hal terorisme, mungkin saya terlalu naif menilai.

Namun saya telah melihat pattern yang sama berulang-ulang dalam dunia bisnis (misalnya “perang” tak berkesudahan antara dept marketing vs. dept finance, dept supply chain/procurement vs. dept operation/maintenance). Kasus kehilangan pandangan akan “system thinking” terjadi dimana-mana, terutama dalam dunia yang cenderung makin complicated.

Sehingga terbunuhnya Osama atau tertangkapnya jaringan teroris tanpa mencari akar masalah hanyalah contoh kasus yang sama saja dengan mengobati demam tanpa mencoba mencari sumber penyebab demam tersebut (apakah demam berdarah, campak, atau kanker otak?). Gejala kita tangani, tetapi tanpa mengobati akar masalah, penyakit makin lama menjadi penyakit laten dan semakin kronis.

Bagaimanapun, kehadiran kelompok-kelompok ini juga dipicu oleh adanya ketidakadilan yang ada secara nyata terjadi dalam percaturan politik dan perdagangan internasional serta pemerintahan yang korup dan juga masalah kemiskinan.

Tentu saja, penegakan hukum terhadap tindakan kriminal dan pembuat keonaran mesti djalankan tanpa pandang bulu (terlepas dari agama, suku, ras), namun secara bersamaan masalah-masalah mendasar yang bisa dijadikan Common Ground antar kelompok seperti pemberantasan kemiskinan, pembangunan yang berkeadilan harus menjadi fokus yang lebih besar dari kita semua.

Sebuah masalah yang sebenarnya simpel tapi sangat tidak mudah untuk dijalankan.

But,  I believe,  it worths all the efforts.

Tanpa itu, apa yang saksikan hari ini, hanyalah sebuah awal dari jalan kekerasan yang sama panjang.

One Response to Osama, JI, NII dan mengapa”terorisme” masih akan jadi topik dalam jangka waktu panjang

  1. […] Berita buruknya (atau berita bagus?), dunia kita sekarang ini hampir semua terangkai dalam situasi dynamic complexity. Bahkan perang melawan teroris pun adalah sebuah krisis yang sistemik. Lihat artikel saya tentang ini… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: