it’s simply because we DON’T DO what we know (not because we DON’T KNOW what to do) – part 2

June 28, 2011

menyambung tulisan tempo hari, ini tambahan beberapa hal yang kita sudah TAHU tapi jarang yang BISA MELAKUKAN:

  • antri
  • [di jalan umum dan di tol] menyalip tidak dari kiri
  • [di tol] lajur kanan hanya untuk mendahului
  • [di tol] kecepatan minimum 60 dan maksimum 80 km/jam  *mengingat seringnya kita melanggar ini saya mulai berpikir apa mending rambu-rambu ini dihilangkan saja atau aturan diubah biar lebih sesuai dengan kenyataan di lapangan*
  • TIDAK KORUPSI  *ga perlu komentar, terlalu sering dibahas, diseminarkan, tinggal  diimplementasikan aja*

 

 

Advertisements

it’s simply because we DON’T DO what we know (not because we DON’T KNOW what to do) – part 1

June 24, 2011

why we as an individual, organization and especially a society in Indonesia, not accomplish what we aim to achieve?

it is NOT because we DON’T KNOW what to do, but because we DON’T DO what we know.

here are some examples of the Common Sense which are NOT Common Practice in Indonesia, specific related to meeting ground rules:

  • start meeting on time
  • finish meeting on time
  • no side conversation
  • handphone silent
  • answer handphone outside meeting room
  • have a clear agenda for meeting
  • make and send a minutes of meeting (MOM)
  • follow up and execute action items

Those simple ground rules are sooooooo well known, but soooooooo rarely done into practice….

this is a great challenge for leaders and future leaders in Indonesia. Start to commit to do such simple things.

But,

simple does not always mean easy


kartu kredit itu netral (dan bagaimana membuatnya jadi menguntungkan)

June 16, 2011

sebuah pembelaan untuk kartu kredit…

dalam berbagai berita, diskusi, ceramah keuangan, banyak yang menyebut kartu kredit sebagai “barang haram”, “kartu setan”, “rentenir modern” dan lain sebagainya.

Selain bunganya yang tinggi (>3% per bulan), promosinya dianggap sebagai pengundang masuk jebakan  lubang hutang (konsumerisme),  promosi lewat SMS/telpon/ mall yang “sangat bersemangat”, tentu saja topik utama kejahatan kartu kredit adalah debt collector.

Sebagian klaim diatas ada betulnya, namun mengatakan sesuatu hal sebagai haram atau setan hanya karena ada efek buruknya adalah cara pandang fatalistik yang bikin bangsa ngga maju 🙂 Saya akui bahwa banyak teman, saudara dekat yang terjerumus dalam timbunan kartu kredit dan kejaran debt collector; dan tentu saja pengalaman melihat para nasabah yang ada di situasi buruk tersebut.

Namun,

Kartu kredit itu pada dasarnya netral, artinya kalau digunakan untuk hal-hal positif dia akan berguna; dipakai tidak pada tempatnya ya akan membawa kita ke neraka.

Sederhana kan? Ini sama saja dengan barang lain seperti pisau, sepeda motor, kekayaan, kecantikan, uang, dan sebagainya. Dipakai buat yang bagus bisa, buat yang jelek juga bisa. Jadi ini semua tergantung KITA sendiri.

Dalam pengalaman kerja saya, ada kesempatan luar biasa bertemu dengan teman-teman yang bisa menggunakan kartu kredit menjadi hal yang menguntungkan. Bahkan, dalam beberapa kali market research, saya bisa menyaksikan para pengusaha menjadikan kartu kredit sebagai modal/aset untuk memperlancar cashflow!

Nah ini ada beberapa tips sederhana untuk menjadikan kartu kredit jadi sahabat:

1. Bayar selalu penuh (100%) sebelum tanggal jatuh tempo, tambahkan biaya materai (Rp. 6000) dan biaya transfer (jika menggunakan ATM atau cara lain, ketahui biaya pembayarannya).

            Ingat, jika disiplin melakukan hal ini, kita tidak akan pernah terkena bunga 🙂

2.  Catat/ingat tanggal cetak tagihan dan tanggal jatuh tempo, terutama jika memiliki lebih dari 1 kartu kredit. 

     Tips: bertransaksi setelah tanggal cetak tagihan akan memperpanjang masa tunggu sebelum kita perlu membayar tagihan menjadi lebih dari 30 hari

3.  Limit kartu kredit bukan merupakan uang yang kamu punya! Berbelanja tidak perlu mengingat limit kartu kredit, tapi dengan ingat berapa uang yang kita punya di tabungan ataupun pendapatan yang dicadangkan untuk berbelanja.

    Tips: Hindari menggunakan kartu kredit tanpa perencanaan/impulsive buying. DANGEROUS!!!

bikin pos dan quota khusus untuk kartu kredit kamu, misalnya kartu kredit A hanya untuk belanja supermarket maksimal 1 juta/bulan; kartu kredit B untuk belanja baju maksimal 500 rb/bulan. Jika hanya punya satu kartu kredit, tetap buat pos-pos apa saja yang akan menggunakan kartu kredit dan berapa maksimum pengeluaran per bulan.

Berikut tips tambahan kalau sudah berhasil disiplin dalam ketiga hal diatas…:

4. Hanya ambil cicilan barang 0% DAN  tanpa biaya administrasi 🙂 di luar itu mending beli cash aja (ga ada tapi-tapi disini)

5. Cari kartu kredit yang menawarkan benefit bagus yang sesuai dengan pengeluaran rutin kita

Misalnya saya menggunakan beberapa kartu kredit secara rutin:

GE Shopping Card (mungkin sebentar lagi menjadi Permata Shopping Card) karena memberikan rewards setiap kali belanja groceries; dalam 3 bulan saya bisa mendapatkan beberapa lembar voucher MAP  (lumayan kan?)

Citibank Garuda karena memberikan banyak benefit buat saya yang sering travelling domestik, dalam setahun mileage saya rata-rata cukup untuk terbang gratis Jakarta-Denpasar pp (lumayan kan?)

BNI Card, karena kartu BNI sekarang yang promosi diskonnya lumayan kenceng (beberapa tahun yang lalu dipegang Mandiri, BCA, Mega, UOB). Nanti kalau ada bank yang lebih promosinya ya kita pakai yang itu 😀

Akhir kata, kalau kita disiplin melakukan hal-hal diatas, dijamin tidak perlu bayar bunga, tidak perlu berurusan dengan debt collector dan malah banyak dapat benefit beneran. 

Kesimpulan:

gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran/pengganti uang yang sudah kita punya, bukan pengganti uang yang MUNGKIN kita akan punya.


customer centricity (melihat dari kacamata customer) – part 2

June 13, 2011

seperti yang saya bahas sebelumnya, banyak perusahaan berniat mulia untuk mendapatkan feedback dari pelanggan namun belum mendapatkan hasil yang optimum.

contohnya adalah survey kepuasan pelanggan yang dilakukan oleh hampir semua hotel.

Pertanyaan buat para pembaca: adakah yang rutin mengisi form seperti ini pada saat menginap di sebuah hotel?

Berdasarkan diskusi saya dengan banyak orang, baik dalam pembicaraan santai maupun di kelas yang saya selenggarakan,  presentasenya kurang dari 1% yang mau mengisi form seperti ini.

Penyebabnya tentu saja karena pihak pengelola/manajemen hotel tidak menggunakan kacamata customer.

Tips buat manajemen hotel:

gunakan kacamata customer, dan jawab pertanyaan ini: “apa pentingnya buat saya?” atau “apa yang bisa membuat saya tertarik mengisi form ini dengan jujur?”


customer centricity (melihat dari kacamata customer) – part 1

June 10, 2011

customer centricity atau melihat dari kacamata pelanggan adalah hal yang selalu diinginkan oleh bisnis apapun.

TAPI, ini termasuk dalam kategori “simple, but not easy“, artinya banyak yang berusaha, dan kebanyakan belum berhasil.

Contoh satu:

Dalam usaha yang sangat layak dipuji, Garuda sekarang menempatkan sebuah alat pengukur kepuasan pelanggan di check-in counter-nya di Bandara Soekarno Hatta.  Alat-nya sendiri menampilkan interface/layar yang sangat sederhana , cool, touch screen, dan online ke kantor pusat Garuda.  Lihat gambar dibawah:

Tampilan dan alat layak dipuji, inisiatif ini juga sangat luar biasa (dibandingkan BUMN pada umumnya), namun hanya ada satu kelemahan:

dari 8X saya check in/observasi, belum ada satupun penumpang Garuda yang memberikan input.

Kenapa hal ini terjadi?

Menurut saya, karena manajemen Garuda, dalam hal ini belum berhasil menggunakan kacamata customer.

OK, coba kita pakai kacamata “customer” yang melakukan check-in di counter Garuda.

Pertanyaan no 1: Apa gunanya kita memberikan input di screen itu? Apa untungnya buat saya? Penting buat manajemen Garuda, belum tentu penting buat pelanggan.

Pertanyaan no 2: Kenapa para agen yang bertugas tidak ada yang menjelaskan tentang alat ini? Penting buat manajemen Garuda, belum tentu penting buat para agen di depan.

Malah kelihatannya mereka tidak cukup nyaman dengan “kehadiran” alat tersebut. Artinya, bagi para agen yang bertugas di counter, alat ini juga tidak ada “value” nya, kalau tidak bisa dikatakan cukup “mengancam”.

Untuk bisa memberikan value, kedua pertanyaan tersebut perlu dijawab dalam bentuk planning dan eksekusi yang lebih baik oleh jajaran manajemen Garuda…karena inisiatif ini mempunyai tujuan yang sangat bagus sebenarnya.

Apa value/insentif yang bisa ditawarkan kepada penumpang agar kita bisa memberikan feedback dengan jujur?

Apa value/insentif yang bisa ditawarkan kepada para agen agar mereka bersedia dengan senang hati memberikan informasi kepada customer? Agar kita, pelanggan, memberikan feedback dengan jujur?

Bagaimana menurut anda, para penumpang Garuda?

notes:

Rekomendasi tambahan dari sisi quality management adalah lebih baik jika customer feedback bukan hanya dalam bentuk 2 faces (happy – unhappy) tapi dalam bentuk 5 faces (very happy, happy, so-so, happy, very unhappy). Dari sisi data analysis akan lebih valueable, namun memang perlu dilihat apakah menjadikan tampilannya terlalu rumit.