“the cover your ass rule” di sekitar kita

minggu lalu saya menonton tayangan tayangan Panja Mafia Pemilu DPR dengan KPU tentang surat MK palsu. Ada dialog yang cukup “lucu” yang membuat anggota DPR dan wartawan tertawa (dan juga mungkin para penonton tv). Dialog ini tidak sesuai aslinya, tapi kira-kira yang saya ingat seperti ini

—-

Ketua Panja: “jadi siapa yang membacakan surat keputusan MK yang palsu itu?”

Anggota KPU #1:”Saya lupa, Pak”

Ketua Panja: “Sudahlah, kita jujur-jujur saja disini…Masa, tidak ada yang ingat siapa yang membaca?”

Anggota KPU #1:”Saya kurang ingat persis siapa yang membaca, tapi isinya  dan keputusannya ada dalam risalah rapat”

Ketua Panja: “Oh jadi ada dalam risalah rapat ya. Jadi memang benar surat itu dibacakan ya? Kira-kira Pak [menyebutkan nama, saya lupa namanya jadi saya ganti jadi Anggota KPU2 ] ingat ngga siapa yang membacakan surat itu?”

Anggota KPU #2:” Tidak ingat Pak. Tapi saya memang ingat surat itu dibacakan.”

Ketua Panja: “Isi surat yang dibacakan apa Pak?”

Anggota KPU #2:” Saya tidak ingat Pak..” (peserta sidang tertawa riuh)

Ketua Panja: “Gimana ini anggota KPU? Tidak ada yang ingat satupun!!” (semua orang tertawa)

—–

Saya teringat ucapan Russel Ackhoff yang mengatakan dalam system yang buruk, para pelaku/aktor yang terlibat didalamnya akan menyelamatkan diri masing-masing karena system yang buruk tidak mempunyai kejelasan role dan responsibility serta tidak mengerti apa tujuan dari organisasi mereka. Mereka semua akan menerapkan ilmu “menyelamakan diri” ini dan sebisa mungkin menolak mengambil Inisiatif apalagi mengambil Tanggung Jawab. Inilah yang disebut Ackhoff sebagai Cover Your Ass rule. Tidak perduli apa tujuan mulia dari sistem tersebut ada, yang penting kita selamat walaupun system gagal.

Hal ini tidak hanya terjadi di dunia politik.

Di dunia bisnis, dimana para aktornya adalah profesional di dunia swasta, hal seperti ini jamak sekali terjadi.

Saya sering tersenyum dalam hati, dalam berbagai kesempatan bekerja dan ada saat ada pembicaraan untuk bertindak/bertanggung jawab, lalu keluar kalimat-kalimat ini:

“Saya sebenarnya mau membantu Pak, tapi ini bukan tanggung jawab saya, mending Bapak ngomong ke atasan saya ya”

“Siapapun yang harus bertanggung jawab, pastinya bukan saya”

“Inisiatif ini bagus banget, tapi sebaiknya yang mengambil action Mas saja…”

Apalagi kalau sudah ada kesalahan/complain/accident yang membuat top management kebakaran jenggot, ada banyak orang yang akan mengeluarkan pernyataan seragam:

“it wasn’t me!”

“bukan saya, Pak”

Perilaku “cover your ass” ini, kunci utama kegagalan sebuah system/organisasi/perusahaan/negara.

Ubah, jika bisa….jika tidak, tinggalkan organisasi itu secepat mungkin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: