pearl jam, Indonesia is ready for you

August 20, 2011

a love letter to pearl jam

i understand if you are not ready (yet) to play in Indonesia. i understand that could be because of many factors: economics, financials, politics, security, and else.
we, the fans in Indonesia, understand that.
“it’s ok”, “the kids are alright”…:)

BUT

what we could not accept is if Indonesia is not a part of PJ20 screening event. That is just unacceptable, especially since there are 4 screenings in Singapore. The fans base in Indonesia is waaayy much bigger than Singapore…:)

on behalf of the fans in Indonesia, I want the band,  the management & 10c management, to know that Indonesia is ready.

Some of us here have been contacting Vinyl Records and local importer/distributor and cinema networks. We are building options of screening events here, even not knowing (yet) whether we can get a copy.

In short, we are ready.

ps. In case  you don’t know, there are at least 2 online petitions begging Pearl Jam to play in Indonesia. One on petition online dot com (6  years old) and on Facebook. Since Pearl Jam -the band- has not yet come, at least send us the PJ20 -the movie- a copy.

Advertisements

bekerja sebagai sebuah hadiah: catatan TEDxJakarta 13 Aug’11

August 14, 2011

Pagi-pagi di hari Sabtu, ketika anak-anak masih tidur saya meluncur menuju JIS untuk gabung di acara TEDxJakarta (@TEDxJakarta). Tidak gampang meninggalkan rumah di hari Sabtu, jadi acaranya HARUS bagus.

Mendengar petikan gitar Jubing Kristianto yang simpel dan indah membuka acara dengan  theme song film Mission Impossible serta pemaparan Green School dari John Hardy langsung membuat saya teringat kata-kata dari Seth Godin tentang bekerja sebagai sebuah hadiah kepada orang lain.

“A day’s work is your chance to do art, to create gift, and to do something that matters.”

Art? Maksudnya Seni?

Green School - Bali

Dan ini bukan hanya tentang seniman seperti Jubing yang memainkan gitar yang berlandaskan kecintaannya pada gitar atau John Hardy yang membuat sekolah alam dengan arsitektur yang sangat luar biasa untuk memberikan anak-anak kegembiraan dan kedekatan dengan alam. Bukan juga hanya tentang seniman seperti Didik Nini Thowok yang menari karena itu membuat ia senang dan orang lain senang.

Ini tentang kita semua, apapun pekerjaan dan aktivitas kita.

Dan menurut saya, itulah yang ditunjukkan hampir semua pembicara di TEDxJakarta kemarin. Tentang mengerjakan sesuatu yang kita cintai sebaik-baiknya dan membuat orang lain gembira.

Menurut Seth Godin lagi, kita mesti bekerja sebagai artis. Artis dalam pengertian bukan hanya sebagai musisi, penyair atau bintang film. Artis dalam pengertian memberikan sebuah sentuhan seni, art, dalam pekerjaan dan kehidupan kita.

Art is what we’re doing when we do our best work. When you make others happy, whatever you did, it’s a gift for them.

Lihat juga apa yang dilakukan Ibu Musdah Mulia dalam usaha menempatkan Agama dalam konteksnya sebagai wahana untuk mencapai perdamaian, bukan sebaliknya.

Cerita Edward Suhadi (@edwardsuhadi) seorang fotographer yang berangkat ke Halmahera setelah mendengarkan sharing Pak Anies Baswedan dalam sesi TEDxJakarta sebelumnya tentang program Indonesia Mengajar; Edward memutuskan bergabung untuk mendokumentasikan kesepuluh pahlawan muda Indonesia di pelosok Maluku.

Mulyadi Pinneng (@pinneng) yang mencoba memperkenalkan keindahan panorama underwater Indonesia melalui fotografi.

Zainal Alif (@zainalalif) yang seluruh hidupnya diabdikan untuk mempelajari, mendokumentasikan dan memperkenalkan permainan rakyat. Karena “bermain adalah cara paling gampang untuk membuat anak bahagia sambil belajar

Dan tentu saja, idola masa kecil saya Pak Raden (@_pakraden_) yang mendongeng sambil menggambar tentang seorang raja kesepian yang mencari bahagia. Ia menyampaikan dengan dongeng sederhana bahwa “cara untuk berbahagia adalah dengan memberikan kebahagiaan kepada orang disekitar kita.”

Tentu saja kegiatan TEDxJakarta sendiri adalah sebuah hadiah, paling tidak buat saya. Acara yang dikelola dan dikoordinasikan oleh para sukarelawan yang bekerja berdasarkan sesuatu yang mereka suka dan dilakukan dengan senang, membuat saya senang. Saya yakin banyak orang merasakan hal yang saya rasakan.

It’s an art, and thanks for the gift.


Kasus Bank Century, kenapa akan berdampak sistemik

August 3, 2011

Ijinkan saya mengulas lagi tentang Bank Century, kisah yang mungkin sudah usang-ketinggalan jaman. Saya bukan pakar politik ataupun pakar ekonomi/perbankan; kasus ini saya coba lihat dari kacamata system thinking, sebagaimana yang sedang saya coba pelajari dari W.Edwards Deming dan Russell Ackoff.

Trigger ingatan

Saya teringat lagi tentang debat panas Bank Century antara Sri Mulyani (MenKeu waktu itu) dan para anggota DPR, karena Sabtu yang lalu membaca berita debat Presiden US Barack Obama dan Partai Republik tentang talangan hutang negara itu.
Kenapa?
Seluruh dunia seakan menahan nafas menantikan apakah akan terjadi deal diantara kedua kubu. Uni Eropa menyatakan, jika tidak terjadi deal maka beban negara-negara Uni Eropa akan makin berat mengingat mereka baru saja melakukan talangan terhadap beban hutang Yunani. China dan Jepang mengkritik lambatnya proses negosiasi kedua kubu tersebut, dimana semakin lama proses itu semakin beresiko terhadap ekonomi kedua negara Asia Timur itu. Kenapa hal yang terjadi di Amerika membuat panas dingin negara-negara lain?
Have you seen the lead I want you to follow?

In today’s economy, everything is interconnected; everything is systemic.

Selamat datang di abad digital, dimana semua hal terkoneksi hampir 24 jam. Tidak ada yang terisolasi, semua saling mempengaruhi.

Tahun 2007-2008, terjadi krisis keuangan yang bermula dari sub-prime mortgage di US. Bagaikan tsunami, ombaknya menghempaskan banyak negara dan banyak perusahaan di seluruh dunia termasuk perusahaan saya di waktu itu.

Masih ingat dengan krisis moneter alias “krismon” di tahun 1997? Bagaimana Indonesia yang tadinya tegak berdiri dengan pernyataan “fundamental ekonomi Indonesia kuat” akhirnya rontok dan meruntuhkan sebuah dinasti yang sudah berkuasa hampir 30 tahun?

Dalam skala yang berbeda, banyak sekali perusahaan yang “sukses” menghemat budget dengan memangkas biaya training, marketing, dan services mengalami krisis karena pelanggannya semakin sedikit, kinerja pegawai menurun dan kualitas produk semakin jelek. Sadarkah mereka bahwa “sukses” dalam menghemat budget dan “krisis” yang mereka hadapi sebenarnya adalah karena kesalahan sistemik? Kedua hal itu adalah saling berkaitan?

Kenapa susah sekali memecahkan kemacetan di Jakarta? Banyak pihak menyarankan agar mobil di Jakarta dibebani pajak luar biasa besar agar mengurangi niat orang membeli mobil. It won’t work. Negara kita masih membutuhkan pabrik mobil meningkatkan produksi. Jika produksi terus menurun (Jakarta adalah market yang signifikan), akan muncul masalah pendapatan negara dan pengangguran. Belum lagi tiadanya masalah infrastruktur untuk transportasi masal, karena tak ada dana –> karena tak ada investor–>karena pemerintah tidak punya kredibilitas. Ini adalah contoh sempurna sebuah sistem dalam dynamic complexity.

Hadapilah, dunia kita sekarang ini hampir semua terangkai dalam situasi dynamic complexity. Bahkan perang melawan teroris pun adalah sebuah krisis yang sistemik. Lihat artikel saya tentang ini disini.

Lalu apa hubungannya dengan Bank Century? It’s the domino effect!

Dari semua paparan diatas, jelas sudah bahwa sistem keuangan kita sekarang ini sudah tersusun bagaikan kartu domino yang disusun rapat satu sama lain. Satu kartu jatuh, akan menyebabkan rentetan kartu lain berjatuhan satu demi satu dengan sangat cepat.Tentu saja ada argumen valid yang menyatakan bahwa aset dan peran Bank Century sangat kecil dalam pasar uang dan juga perbankan nasional, sehingga kemungkinan bangkrut atau ditutupnya Bank Century tidak akan berdampak sistemik. Disini saya melihat kelemahan analisis teknikal (saja) dan juga kelemahan makroekonomi secara umum; yakni sering melupakan sifat alami market sebagai sebuah ekosistem – sebuah sistem yang hidup karena terdiri dari kumpulan manusia!

The human factor

Saya bukan pelaku dalam pasar saham, tapi saya mengamati bahwa yang disebut analisis fundamental keuangan/teknikal tidak akan cukup menjelaskan dan memprediksi harga saham. Harga saham juga dipengaruhi “sentimen” para pelaku dan analis saham. Sentimen sangat dipengaruhi oleh gosip dan rumor, belum lagi dengan teknik herding dari para broker. Di dunia ideal, harga saham akan dipengaruhi oleh performance perusahaan tersebut, dimana akan tercermin dalam supply-demand yang menentukan harga.

Right? WRONG!

Kinerja perusahaan menentukan, tapi banyak hal lain yang berbau psikologis, rumor, sentimen lebih mempengaruhi. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, harga saham yang menentukan kinerja perusahaan karena sangat menentukan berapa lama seorang CEO mampu bertahan di kursinya. Antara kinerja perusahaan –> harga saham–> kinerja perusahaan –> harga saham menjadi sebuah lingkaran  yang saling mempengaruhi. George Soros menyebut hal ini sebagai asas Refleksifitas, in my limited understanding.

Moral of the story, technical analysis dan technical factor tidak cukup menjadi acuan untuk menentukan sebuah bagian akan menjadi sistemik atau tidak; interaksi dengan faktor lain di dalam system, terutama faktor manusia, menjadikan sebuah sistem sangat sulit diprediksi.

Bayangkan apa yang ada dipikiran manajemen RS Omni (International) ketika menuntut Prita, seorang Ibu yang mengeluhkan pelayanan disana? Bagi RS Omni, secara teknis ini adalah masalah kecil. Perlu dilakukan proses “keadilan” dengan menuntut Prita melakukan pencemaran nama baik, mungkin sebagai sebuah “pelajaran” buat Prita dan para calon pasien lain. Apa yang terlupakan? The human factor. The society as a market and ecosystem. Ketika emosi, empati manusia melampaui tipping point-nya, ini menjadi sebuah gerakan yang tentunya diluar perkiraan RS Omni. Menggilas bagaikan sebuah bola salju.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jangan pernah melupakan faktor psikologis manusia, rumor, emosi yang bisa mempengaruhi kestabilan sebuah sistem.

Bayangkan jika Bank Century (seberapapun buruknya Robert Tantular dan bajingan lain mengelola bank ini) bangkrut atau ditutup. Bagaimana rumor yang ada di kalangan investordan broker di Bursa Efek Jakarta? Apalagi jika ditambah isu masih ada 12 bank lain yang mungkin bernasib sama? Jika saya seorang investor besar di Indonesia, mungkin saya akan mulai sedikit memindahkan investasi saya dan mengabarkan ke sesama investor. Bagaimana jika jumlah orang yang menarik uangnya melewati tipping point?

Tapi ini kan semua berandai-andai…karena Menteri Keuangan waktu itu telah memutuskan memberikan talangan kepada Bank Century. Bagaimana kita tahu kita melakukan hal yang benar?

False Positif dan False Negatif

Setiap kali bayi saya demam dan suhu badannya agak tinggi, terjadi kebimbangan di kepala saya.

Jika saya tidak membawa ke dokter, bagaimana saya tahu bahwa ini hanya demam biasa? Jangan-jangan penyakit serius.

Jika saya membawa ke dokter, jangan-jangan saya terlalu memanjakan bayi saya, karena hanya demam biasa langsung dibawa ke dokter.

Tidak melakukan tindakan pada saat kita mesti melakukan tindakan disebut False Negatif.

Melakukan tindakan pada saat seharusnya tidak perlu melakukan apa-apa disebut False Positif.

Sekarang bayangkan Sri Mulyani adalah seorang Ibu, dan ekonomi Indonesia adalah sang bayi. Dengan bayang-bayang krisis moneter tahun 1997 (“fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat”), bayang-bayang krisis finansial di Eropa dan Amerika, serta mungkin pemahaman akan “domino effect” dan pengaruh psikologis market,  jika saya menjadi Sri Mulyani, dengan 100% confidence saya juga akan menyelamatkan Bank Century.

In today’s world, actually no system is not systemic.