“the lizard brain” dan mengapa kita (sering) takut berbuat benar

September 29, 2011

belakangan ini saya dihantui pertanyaan-pertanyaan ini:

mengapa kita, orang Indonesia, susah sekali melakukan hal- hal sederhana yang semua orang tahu itu merupakan tindakan yang benar?

mengapa banyak orang masih parkir di tempat yang ada tanda dilarang parkir?
buang sampah di tempat tanda di larang buang sampah?
menyalip dari sebelah kiri di jalan tol, padahal hampir tiap 500 m ada larangan menyalip dari kiri?

 

 

dan tentu saja kita adalah Bangsa yang membuat kalimat “katakan tidak pada korupsi” menjadi bahan lelucon di berbagai situasi…

singkatnya, ada jurang besar antara KNOWING dan DOING. antara TAHU dan MELAKUKAN

kenapa ini menjadi pertanyaan yang mengganggu saya?
karena semakin saya banyak berinteraksi dengan perusahaan yang sedang memperbaiki kinerjanya, semakin saya yakin bahwa kinerja belum baik bukan karena manajemen dan karyawan tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena tidak melakukan hal-hal mendasar yang seharusnya dilakukan.

disamping itu, dengan bertambahnya usia, saya makin khawatir dengan daya saing negara kita yang masih berada diranking bawah serta hutang luar negeri yang makin menggunung.

banyak hutang artinya kita terlalu banyak berbicara dan berwacana dibanding hasil karya nyata!

sekali lagi, ada gap antara KNOWING dan DOING.

the lizard brain: sumber  ketakutan  dan resistansi

dari pencarian saya, saya mendapatkan temuan menarik yang diutarakan oleh banyak tokoh, dari Ed Deming, Bob Sutton/Jeff Pfeffer, dan tentu saja Seth Godin.

Menarik untuk diketahui bahwa inkonsistensi kita, mengetahui hal yang benar namun tetap melakukan hal yang salah, tidak lain disebabkan oleh rasa takut.

Pernahkah kamu berniat melakukan tindakan yang menurut kita benar, namun ada suara di kepala kita yang mengingatkan kita untuk “hati-hati, jangan sampai kita ditertawakan orang”, “ide bagus, tapi kayaknya sekarang belum saatnya” ?

Ada sebuah bagian dari otak yang disebut amygdala, yang merupakan bagian otak yang ada sejak evolusi awal manusia. Bagian ini mengatur banyak naluri alamiah kita: marah, reproduksi dan terutama rasa TAKUT.

Amygdala  menyimpan memori manusia akan hal-hal yang bisa mengancam kelangsungan hidup manusia: api, ketinggian, binatang buas, ancaman musuh, dan lain sebagainya.

Ingin coba bungee jumping? Akan ada suara di kepala kamu yang mencoba mencegah kamu melakukannya.

Berjalan di tempat gelap sendirian? Bulu tengkuk kamu mungkin berdiri, karena bagian otak ini akan menyiapkan seluruh pertahanan dari kemungkinan ancaman dari belakang.

Seth Godin meyebut amygdala sebagai lizard brain. Karena ia primitif, menyebabkan kita stagnan dan menolak ide-ide baru. Lizard brain menuntut kita untuk selalu berlindung, menolak ide baru dan jangan mengambil resiko sekecil apapun.

Lalu apa hubungan lizard brain ini dengan knowing-doing gap?

Rasa TAKUT.

Pernah kamu ingin mengatakan hal yang benar kepada atasan kamu yang sedang meracau dan mengambil keputusan yang salah? Di saat kamu akan mengatakannya, ada suara di kepala kamu yang mencegah kamu. Dan kamu batal lalu memilih diam. Lizard brain menang.

Jika kamu anak sekolah, pernahkah kamu punya keinginan ingin mengisi waktu dengan belajar sendiri di kelas, namun ada suara di kepala kamu yang terus menerus mengingatkan untuk tidak usah belajar ditempat umum agar jangan sampai kamu ditertawakan teman-teman sekelas kamu?

Dan inilah sebabnya, kenapa sangat susah untuk melompat dari TAHU untuk menjadi MELAKUKAN.

Kita harus melawan resistansi pikiran kita sendiri.

Yang menjadi permasalahan adalah fakta bahwa banyak masyarakat dan negara di luar Indonesia sudah berhasil membangun budaya dan infrastruktur untuk mengalahkan si Otak Kadal ini, sedangkan kita di Indonesia belum.

Dan itu adalah masalah besar!

 

 

notes: posting ini berhubungan dengan slide Knowledge-based-Action


overcoming the resistance to act and a simple guide to knowledge-based-ACTION

September 20, 2011

this is more a self reminder and self-therapy for me.

As part of my exercise, I put a big file  here .  Will show some slide on my blog post from time to time, and this is one of them 🙂

 


kecelakaan di tol Cipularang: human error atau kondisi jalan? Sebuah tool statistik sederhana bisa membantu

September 18, 2011

Ketika seorang penyanyi mengalami kecelakaan pada tanggal 3 Sep’11 yang menyebabkan istrinya meninggal, sebuah topik hot sempat menjadi menu utama media, terutama berkaitan dengan kondisi tol Cipularang yang menyebabkan “banyak” kecelakaan terjadi. Apalagi, empat hari kemudian terjadi kecelakaan di lokasi yang berdekatan dengan korban yang lebih banyak lagi.

Sesuai dengan karakter masyarakat kita yang doyan mendiskusikan topik-topik seperti ini sampai bosan sendiri (terutama dengan sedikit bumbu mistik), kecelakaan ini juga menyulut diskusi panas serta tuntutan banyak orang agar tol Cipularang di tinjau atau malah langsung diperbaiki, untuk menghindari kecelakaan.

Sebuah perspektif yang cukup obyektif dituliskan oleh James Luhulima di harian Kompas 10 Sep 2011 (hal 15). Disini  James menawarkan sebuah pandangan bahwa kecelakaan yang terjadi sepanjang tahun 2011 (213 kecelakaan) adalah sangat kecil dibanding jumlah kendaraan yangmelewati tol ini (127,183).  Ratio kecelakaan hanya 0.16% alias sangat kecil. Beliau menyatakan persetujuan dengan Polisi bahwa kecelakaan artis disebabkan karena human error. Oleh karena itu perlu enforcement yang lebih kuat dalam proses pemubuatan SIM serta monitoring yang lebih disiplin dalam mengawasi para pengendara.

Saya ingin melanjutkan pemikiran Pak James ini dengan menggunakan Control Chart, sebuah tool efektif yang jarang dipergunakan secara luas di luar pabrik.

Fungsi utama Control Chart adalah untuk membantu kita melihat suatu proses/data sebagai sebuah peristiwa khusus (Special Cause) atau hanya merupakan variasi alami saja (natural/random variation) saja? Hal ini akan sangat membantu untuk memulai kajian yang lebih teliti sebelum memutuskan apakah tol Cipularang perlu dirombak atau sebenarya sudah memadai.

Saya sangat setuju pendekatan Pak James yang menggunakan ratio antara jumlah kecelakaan / jumlah kendaraan, namun menurut saya, yang lebih tepat dipakai bukanlah ratio total per tahun atau per bulan, namun ratio harian. Untuk ratio seperti ini, control chart yang digunakan adalah p chart.

Karena saya tidak mempunyai data secara detail, saya membuat contoh fiktif untuk memperlihatkan bagaimana control chart bisa digunakan untuk mereview tol cipularang dalam 3 skenrio sederhana:

Skenario 1:

Skenario 1: variasi natural

Pada skenario 1 ini diperlihatkan bahwa pada puncak mudik, terjadi peningkatan jumlah kecelakaan. Namun jika dilihat dengan control chart, semua masih dalam statistical control, artinya peningkatan kecelakaan adalah konsekuensi logis dari meningkatnya jumlah kendaraan. Dalam bahasa Edwards Deming, semua masih dalam variasi alami, atau bukan karena kondisi jalan.

Skenario 2:

Skenario 2: kejadian khusus (outler)

Pada skenario 2, ditunjukkan terjadi kejadian khusus (special cause) atau outlier pada tanggal 3 Sep’11. Jika data menunjukkan seperti ini, kesimpulan yang bisa diambil adalah bukan jalan yang bermasalah tapi mungkin karena human error, faktor cuaca (hujan, angin) atau faktor-faktor yang diluar kondisi jalan. Kita bisa melanjutkan penyelidikan terhadap kejadian khusus (cuaca) dan kondisi pengendara.

Skenario 3:

Skenario 3: trend peningkatan kecelakaan

Jika data menunjukkan seperti skenario 3, maka ini dapat disimpulkan terjadi trend peningkatan kecelakaan dalam periode akhir Agustus’11 – awal September’11. Ini bisa terjadi karena:

– seasonality/musim mudik Lebaran

– penurunan kondisi jalan tol

– perubahan pengaturan lalu lintas atau pun pemberian SIM, dlsb.

Harus dilakukan kajian untuk mencari tahu, kenapa terjadi tren baru ini. Fokus untuk skenario ini bisa pada kondisi jalan, kepadatan kendaraan, perubahan peraturan yang terjadi di saat itu, an lain sebagainya.

 

Nah, tiga skenario diatas adalah contoh fiktif menggunakan tool real yang banyak digunakan di negara maju seperti Jepang. Jika ada data aktual, saya akan dengan senang hati melakukan analisis dengan komputer. Namun tetap diingat, angka dan grafik hanya pintu awal untuk memahami apa yang terjadi; pengetahuan yang lebih mendalam terhadap proses sehari-hari, pengamatan langsung di TKP, serta pengertian terhadap keseluruhan system (jalan, lalu lintas, peraturan, kondisi kendaraan yang mengalami kecelakaan) tetap memegang peranan penting.

Disini tujuan utama saya adalah data-data yang sudah ada bisa digunakan untuk melakukan kajian yang lebih baik, jangan hanya melnggunakan data sebagai total atau rata-ata saja. Kita perlu melihat detail dan variasinya.


Systems Thinking and Sustainability (via Mike Plugh)

September 15, 2011

great post which I have to repost for my reminder and also sharing for others

In my prior post, "We are Air," I introduced the idea of systems thinking via the duo of Gregory Bateson (with a hat tip to his daughter Nora) and the biologist David Suzuki. The driving force behind my scholarship and my life's work is the idea that the world offers sufficient opportunity for learning, particularly via our respective communities, that the medium of education ought to be rethought, particularly in an age when information is abund … Read More

via Mike Plugh


“shinkansen”: contoh proses yang lean-six sigma

September 8, 2011

shinkansen

Setiap kali saya mendapat pertanyaan tentang seperti apa sih suatu proses yang bisa menjadi contoh sebagai proses yang lean-six sigma, ingatan saya akan langsung teringat pada shinkansen di Jepang. Jaringan kereta api super cepat ini, bukan hanya menjadi faktor penggerak ekonomi yang luar biasa besar bagi Negara Matahari Terbit itu, namun juga menjadi simbol kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan mereka.

Bagaimana performance shinkansen ini? Ini ada beberapa fakta luar biasa:

  • Kecepatan maksimum bisa mencapai 300 km/jam.
  • Sangat sibuk, pada banyak rute, bisa berangkat tiap 5 menit
  • Sejak dimulai tahun 1964, tidak pernah terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian!!!!. Ini luar biasa, mengingat Jepang negara rawan gempa dan tsunami.
  • Tingkat ketepatan jadwal shinkansen berkisar plus-minus 6 detik!

Walaupun mungkin orang Jepang tidak menyebutnya Lean-Six Sigma, namun inilah contoh suatu proses yg bisa disebut World Class, yakni terpenuhinya ciri-ciri:

  1. Sangat strategis, mempunyai peran penting bagi suatu negara/perusahaan/organisasi
  2. Melampaui ekspektasi pelanggan (exceeded customers expectation)
  3. Selalu dalam kerangka perbaikan berkesinambungan (continuous improvement)
  4. Tingkat kegagalan (defect) sangat kecil

 

Bagi para pembaca, pikirkan proses/system yang sangat penting dalam organisasi anda, apakah sudah mencapai tingkat seperti diatas? Jika belum, itulah yang disebut OPPORTUNITY FOR IMPROVEMENT