Ini ide BESAR saya: mari LAKUKAN hal yang KECIL dengan sangat sangat baik :D

October 29, 2011

Sebuah kolom di koran Kompas (lupa kapan, hanya baca sekilas judulnya saja) kira-kira berbunyi: SBY butuh Gagasan Besar untuk Mengejar Ketertinggalan.

Menurut saya, gagasan BESAR yang diperlukan sebenarnya adalah: MELAKUKAN apa yang sudah diomongkan, dijanjikan dan ditargetkan. Ga usah cari gagasan dulu nanti kebanyakan rencana dan janji 🙂

Saya punya pemikiran, daripada mikirin negara ini yang sekarang dipimpin banyak orang tua dan orang muda yang keblinger dan sibuk dengan mencari gagasa besar, gimana jika kita  melakukan tiga hal kecil ini dengan sangat baik. Maksudnya dengan sangat sangat sangaaaat baik.

1. Tidak korupsi atau tidak mengambil yang bukan hak kita

2. Buang sampah pada tempatnya

3. Tidak menyalip dari kiri kalau sedang nyetir.

Saya yakin, kita bisa jadi bangsa hebat kalau 60% rakyat Indonesia melakukan hal kecil itu dengan disiplin.

MAU?

Advertisements

apakah kita, Bangsa Indonesia, adalah bangsa penakut?

October 14, 2011

sayang sekali, menurut saya jawabannya adalah YA, kita memang bangsa penakut.

berlawanan dengan apa yang diajarkan kepada kita, atau yang kita ingin percaya bahwa kita adalah bangsa pemberani, melalui serangkaian pemikiran saya mengambil kesimpulan bahwa yang benar adalah sebaliknya.

sebelum anda menghujat saya atau menganggap saya memandang dunia secara negatif, ada baiknya anda membaca logika berpikir saya kenapa sampai pada kesimpulan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa penakut.

Ini adalah FAKTA yang mendasari kesimpulan saya:

1. Kita dijajah secara fisik, ekonomi, pemerintahan dan militer oleh Bangsa Belanda selama hampir 350 tahun dan oleh Bangsa Jepang selama 3.5 tahun. Kalau kita bangsa yang berani tentunya kita tidak akan terjajah selama itu.

2. Kita tidak merdeka secara ekonomi sampai hari ini. Modal utama ekonomi bangsa kita adalah pinjaman dan investasi dari negara luar. Kalau kita bangsa yang berani, kita seharusnya sudah merdeka secara ekonomi. Investasi dan hutang luar negeri tentunya sangat bagus, namun bukan berarti itu yang menjadi sumber utama 😦

3. Korupsi merajalela dimana-mana; kalau sebelumnya di jaman Soeharto korupsi tersentralisasi di keluarga besar beliau dan kroni-kroninya, sekarang Korupsi mengalami pemerataan yang seadil-adilnya di berbagai daerah dan sektor. Jika saya bertanya kepada famili, teman, pemimpin yang saya kenal, hampir semua bilang mereka anti korupsi dan akan melawan jika ada korupsi di dekat mereka. Kenyataannya adalah kita terlalu takut untuk mengatakan hal yang benar atau bahkan menegur jika kita tahu saudara atau atasan kita ada yang korupsi.

4. Jangankan untuk skala besar seperti korupsi….untuk level yang lebih kecil saja kita tidak berani mengatakan hal yang benar atau berani mendudukkan hal yang benar:

a. Polisi cepek dan tukang parkir liar dimana-mana…kita tidak berani menegur mereka

b. Sopir Bis menyalip dari bahu jalan….kita tidak berani menegur mereka

c. Orang buang sampah sembarangan…kita tidak berani menegur mereka

Bukan salah pemimpin!

Tentunya mudah mengatakan ini adalah kesalahan Presiden, Gubernur, Kapolda atau para pemimpin lain…

Dan ini menguatkan kesimpulan saya, karena bangsa yang penakut adalah bangsa yang selalu menyalahkan orang lain terutama para pemimpinnya 🙂

Oh ya, banyak sekali individu-individu pemberani di sekitar kita. Saya setuju.

Tapi yang saya bicarakan adalah kita sebagai sebuah BANGSA bukan individu. Banyak individu pemberani, tapi sebagai bangsa kita penakut. Ibaratnya jika sebuah tim sepakbola bertanding, jika hanya satu orang pemain yang berani sementara yang lain penakut, sebagai tim mereka akan kalah. That’s the only thing that matters. Sebuah tim…sebuah bangsa.

Kesalahpahaman: Suka berkelahi, pemarah dan mengamuk bukanlah tanda keberanian:)

Jika ada orang dekat anda yang gemar marah, cepat emosi atau suka mengamuk itu bukanlah tanda orang pemberani..justru itu adalah tanda penakut.

Orang penakut karena “insecure” bisa dilihat dari dua model: Violence atau Silence. To fight or to flight.

Orang penakut, kalau ngga ngamuk ya diem saja atau lari dari masalah.

Jadi kalau melakukan bom bunuh diri, itu ciri-ciri orang penakut karena dia tidak berani menghadapi kenyataan hidup, tidak berani berhadapan dengan kenyataan yang dia tidak suka.

Orang yang pemberani akan menghadapi persoalan di depannya dengan kepala dingin dengan tujuan persoalan selesai dan semua pihak bisa mendapatkan manfaat. Susah? Tentu saja…makanya menjadi orang pemberani susah.

Sebuah ironi

Tentunya yang menjadi ironi besar adalah saya termasuk dalam individu penakut dalam bangsa penakut. Tapi saya sudah mulai capek menjadi bagian dari sebuah bangsa dengan kualitas mediocre, korupsi dimana-mana dengan hutang yang harus ditanggung anak-cucu saya.


“the lizard brain”: mengapa saya sering emosi saat menyetir?

October 8, 2011

dalam pencarian mencari jawaban kenapa banyak perusahaan dan individu yang hebat tapi kinerja-nya biasa saja, saya sampai pada banyak pengalaman dan literatur yang menunjuk salah satu akar masalah ada pada bagian kecil di kepala kita: amygdala atau the lizard brain.

penelusuran lebih lanjut dalam buku bagus (recommended) yang berjudul Crucial Conversations malah membantu saya mengerti kenapa perilaku saya saat menyetir di jakarta seringkali memalukan mendekati kampungan…

terus terang saja, saya dan istri tidak terlalu sering berdebat panas, kecuali pada saat menyetir. Dulu saya sering tidak sadar bahwa perilaku agresif saya saat menyetir bukan hanya konyol tapi juga berbahaya. Sampai beberapa saat lalu, saya bahkan menganggap emosi dan agresivitas saya sebagai reaksi balasan yang wajar akibat tindakan “musuh” saya di jalan.

Sebagai gambaran, sebagai orang yang pada dasarnya cukup sabar (ehem ehem), saat menyetir saya seringkali sampai membuka jendela (menantang “musuh”), mengejar mobil lawan sampai ke jalan yang  seharusnya bukan rute saya, mem”bully” dengan lampu besar & klakson…. sampai yang ekstrim: menabrak motor yang sebelumnya menabrak spion mobil saya sampai pada hampir adu jotos di jalan macet dekat tanah kusir…:(

Terus terang saja, bagi saya itu adalah the fun part😉 masalahnya, istri saya selalu menentang (of course!) setiap kali saya dalam kondisi emosi dan agresif seperti itu. Jadilah sepanjang jalanan diisi dengan omelan dan debat panas, that’s the NOT fun part heheheheqqq

Nah dalam buku yang saya sebut dijelaskan bagaimana kita, manusia, akan bereaksi dalam “situasi yang mengancam” kita.

Pada dasarnya saat indra kita menangkap sinyal “ancaman”, apapun itu bentuknya, termasuk saat sebuah mobil norak mencoba memotong antrian kita masuk gerbang tol, maka kelenjar adrenalin akan mulai memompa hormon-hormon itu lebih banyak untuk meningkatkan aktivitas organ-organ vital terutama jantung dan paru-paru (ditandai dengan detak jantung dan nafas yang lebih cepat). Saat adrenalin mulai menguasai kepala kita, otak manusia pada hakekatnya berhenti berfungsi, dan diambil oleh “auto pilot” yang dikendalikan otak primitif kita yang bertanggung jawab terhadap refleks dan survival manusia: the lizard brain.

Apa artinya?

Artinya, dalam keadaan emosi, pikiran manusia sama primitif-nya dengan (maaf) kera ataupun reptil 🙂

Jangan heran jika manusia dalam keadaan emosi dan gelap mata, pasti lupa rasio, logika, dan etika (apalagi agama), mengingat memang otak yang menyimpan memori itu sedang tidak berfungsi.

Dalam keadaan emosi, manusia hanya mempunyai 2 pilihan: VIOLENCE dan SILENCE tergantung situasi lawan.

VIOLENCE atau marah/mengamuk merupakan reaksi alami saat emosi dimana lizard brain akan memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih banyak ke otot terbesar manusia yakni kaki dan tangan dibanding otak. Ini adalah reaksi jika kita merasa “musuh” kita dapat kita atasi.

SILENCE atau diam/menghindar adalah reaksi saat emosi jika “musuh” jauh lebih besar/kuat dibanding kita.

Dan mengapa ini penting?

Dalam perjalanan saya sebagai konsultan, saya mulai memahami bahwa kinerja seorang individu, sebuah team, sebuah organisasi seringkali tidak mencapai target karena faktor VIOLENCE atau SILENCE tadi, jadi bukan hanya masalah teknis, skill atau knowledge.

Pernahkah anda dalam kondisi emosi tinggi berdebat dengan kolega anda dan saat berdebat anda “lupa ingatan” sehingga yang terjadi adalah ngotot-ngototan untuk memenangkan debat dan lupa TUJUAN awal dari debat itu? Saya sering terjebak kondisi ini.

Pernahkah anda mempunyai atasan yang menggunakan taktik bullying untuk memastikan anda menyelesaikan tugas, tidak perduli anda setuju atau tidak dengan caranya. Saya pernah.

Pernahkah anda akhirnya memilih diam karena bos anda menilai pendapat anda “stupid idea” padahal anda yakin itu adalah ide yang jauh lebih baik dari ide bos itu? Saya juga sering memilih jadi “yes man”, yang penting cari selamet dulu.

Pernahkah anda lari menghindar dari rekan kerja anda yang menurut anda karakternya sangat mengganggu?

Jika anda pernah mengalami itu, tentunya kita sama-sama mengerti bagaimana emosi dan insting primitif manusia menjadi hambatan besar kita semua mencapai prestasi yang kita inginkan.