“the lizard brain”: mengapa saya sering emosi saat menyetir?

dalam pencarian mencari jawaban kenapa banyak perusahaan dan individu yang hebat tapi kinerja-nya biasa saja, saya sampai pada banyak pengalaman dan literatur yang menunjuk salah satu akar masalah ada pada bagian kecil di kepala kita: amygdala atau the lizard brain.

penelusuran lebih lanjut dalam buku bagus (recommended) yang berjudul Crucial Conversations malah membantu saya mengerti kenapa perilaku saya saat menyetir di jakarta seringkali memalukan mendekati kampungan…

terus terang saja, saya dan istri tidak terlalu sering berdebat panas, kecuali pada saat menyetir. Dulu saya sering tidak sadar bahwa perilaku agresif saya saat menyetir bukan hanya konyol tapi juga berbahaya. Sampai beberapa saat lalu, saya bahkan menganggap emosi dan agresivitas saya sebagai reaksi balasan yang wajar akibat tindakan “musuh” saya di jalan.

Sebagai gambaran, sebagai orang yang pada dasarnya cukup sabar (ehem ehem), saat menyetir saya seringkali sampai membuka jendela (menantang “musuh”), mengejar mobil lawan sampai ke jalan yang  seharusnya bukan rute saya, mem”bully” dengan lampu besar & klakson…. sampai yang ekstrim: menabrak motor yang sebelumnya menabrak spion mobil saya sampai pada hampir adu jotos di jalan macet dekat tanah kusir…:(

Terus terang saja, bagi saya itu adalah the fun part😉 masalahnya, istri saya selalu menentang (of course!) setiap kali saya dalam kondisi emosi dan agresif seperti itu. Jadilah sepanjang jalanan diisi dengan omelan dan debat panas, that’s the NOT fun part heheheheqqq

Nah dalam buku yang saya sebut dijelaskan bagaimana kita, manusia, akan bereaksi dalam “situasi yang mengancam” kita.

Pada dasarnya saat indra kita menangkap sinyal “ancaman”, apapun itu bentuknya, termasuk saat sebuah mobil norak mencoba memotong antrian kita masuk gerbang tol, maka kelenjar adrenalin akan mulai memompa hormon-hormon itu lebih banyak untuk meningkatkan aktivitas organ-organ vital terutama jantung dan paru-paru (ditandai dengan detak jantung dan nafas yang lebih cepat). Saat adrenalin mulai menguasai kepala kita, otak manusia pada hakekatnya berhenti berfungsi, dan diambil oleh “auto pilot” yang dikendalikan otak primitif kita yang bertanggung jawab terhadap refleks dan survival manusia: the lizard brain.

Apa artinya?

Artinya, dalam keadaan emosi, pikiran manusia sama primitif-nya dengan (maaf) kera ataupun reptil🙂

Jangan heran jika manusia dalam keadaan emosi dan gelap mata, pasti lupa rasio, logika, dan etika (apalagi agama), mengingat memang otak yang menyimpan memori itu sedang tidak berfungsi.

Dalam keadaan emosi, manusia hanya mempunyai 2 pilihan: VIOLENCE dan SILENCE tergantung situasi lawan.

VIOLENCE atau marah/mengamuk merupakan reaksi alami saat emosi dimana lizard brain akan memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih banyak ke otot terbesar manusia yakni kaki dan tangan dibanding otak. Ini adalah reaksi jika kita merasa “musuh” kita dapat kita atasi.

SILENCE atau diam/menghindar adalah reaksi saat emosi jika “musuh” jauh lebih besar/kuat dibanding kita.

Dan mengapa ini penting?

Dalam perjalanan saya sebagai konsultan, saya mulai memahami bahwa kinerja seorang individu, sebuah team, sebuah organisasi seringkali tidak mencapai target karena faktor VIOLENCE atau SILENCE tadi, jadi bukan hanya masalah teknis, skill atau knowledge.

Pernahkah anda dalam kondisi emosi tinggi berdebat dengan kolega anda dan saat berdebat anda “lupa ingatan” sehingga yang terjadi adalah ngotot-ngototan untuk memenangkan debat dan lupa TUJUAN awal dari debat itu? Saya sering terjebak kondisi ini.

Pernahkah anda mempunyai atasan yang menggunakan taktik bullying untuk memastikan anda menyelesaikan tugas, tidak perduli anda setuju atau tidak dengan caranya. Saya pernah.

Pernahkah anda akhirnya memilih diam karena bos anda menilai pendapat anda “stupid idea” padahal anda yakin itu adalah ide yang jauh lebih baik dari ide bos itu? Saya juga sering memilih jadi “yes man”, yang penting cari selamet dulu.

Pernahkah anda lari menghindar dari rekan kerja anda yang menurut anda karakternya sangat mengganggu?

Jika anda pernah mengalami itu, tentunya kita sama-sama mengerti bagaimana emosi dan insting primitif manusia menjadi hambatan besar kita semua mencapai prestasi yang kita inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: