Opportunity for Lean-Six Sigma Black Belt in Indonesia

November 24, 2011

I am excited to post an opportunity for any Lean Six Sigma Black Belt and Process Improvement practicioners in Indonesia:

Variance Reduction International (VRI)-Indonesia is looking for experienced Lean Six Sigma Black Belt/Practicioners to join our team in Indonesia, with this requirement:
Position Requirements:

  • Certified Lean Six Sigma or Six Sigma Black Belt
  • Engineering degree
  • Expertise in executing the DMAIC roadmap for Lean Six Sigma projects
  • Expertise in Lean Six Sigma tools and methodology
  • Expertise in scoping a Lean Six Sigma project
  • Expertise in data analysis and interpretation
  • Physically able and willing to travel (Indonesia and SE Asia)
  • Completed two Lean/Six Sigma projects with a financially verified benefit (submit presentations of the projects along with application)
  • References from at least one Master Black Belt (for  interview)
  • Proven facilitative leadership and project management skills
  • Minimum of two years of Lean Six Sigma experience
  • Able to work in a culturally diverse work environment

Desirable But Not Required Skills and Attributes:

  • Expertise in Kaizen facilitation
  • Change management expertise
  • Master degree/MM/MBA

Working schedule: Back to Back (BTB) 10 working days on,10 days off

For interested applicants please send CV to gedemanggala@variancereduction.com

Advertisements

menuju financial freedom: mengejar bayangan semu?

November 12, 2011

berlawanan dengan pendapat para “pakar” financial freedom, menurut saya probabilitas orang awam sangat kecil untuk mencapai sukses dalam kebebasan finansial jika  mengejar itu dengan cara yang diajarkan para “master” yang sering berbicara dalam talkshow atau lewat buku-buku seperti “Cara Singkat Menjadi Kaya” atau “Pensiun Muda Kaya Raya”.

Ini dua dogma dan prinsip yang sering diajarkan kepada orang awam, yang menurut saya mempunyai kelemahan mendasar:

1. Cari Uang Sebanyak-banyaknya agar bisa “Pensiun Muda”

Sekarang coba kita ingat-ingat, diantara orang terkaya sedunia, siapa diantara mereka yang sudah memutuskan untuk “pensiun”. Bill Gates masih bekerja, bahkan Warren Buffet juga masih bekerja. Bagaimana dengan Larry Page dan Sergei Brin para milyuner muda pendiri Google? Steve Jobs hanya bisa dipensiunkan oleh penyakit dan kematian.

Pada akhirnya, ketika kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi oleh keuangan kita, maka ada kebutuhan lain yang akan menuntut untuk dipenuhi misalnya “power” dan pengakuan, seperti teori Maslow.

Asumsi dasar para “pakar” financial freedom bahwa kita perlu mencari uang sebanyak-banyaknya sekarang sehingga kita bisa pensiun muda dari pekerjaan kita sekarang adalah sangat keliru dan juga menyiratkan bahwa siapapun yang percaya dengan ide ini adalah orang-orang yang tidak menyukai pekerjaannya sekarang. Get an exciting job, instead 🙂

2. Cari uang sebanyak-banyaknya, sehingga semua kebutuhan kita akan terpenuhi dan kita terbebas dari masalah.

Secara dangkal, prinisip ini sangat masuk akal, namun kalau dipikirkan lebih lanjut, dogma ini keliru besar.

Dan Ariely, dalam bukunya Predictably Irrational, menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan yang sangat buruk dalam memprediksi kemampuan mereka dalam beradaptasi, baik adaptasi untuk keadaan yang lebih baik maupun yang lebih buruk.

Misalnya, pada waktu saya mempunyai gaji satu juta rupiah per bulan, saya mempunyai pemikiran bahwa hidup saya akan jauh lebih berkecukupan jika gaji saya naik 5x lipat menjadi 5 juta rupiah per bulan. Betul? Betul, hanya untuk bulan pertama:)

Tanpa saya sadari (atau sudah sadar tapi memang menikmati), semua kebutuhan saya juga malah meningkat dengan drastis, mulai butuh baju yang lebih keren, parfum, handphone yang lebih bagus, dan….hmmm tampaknya saya sekarang butuh mobil!

Pola yang sama terus terjadi setiap kali saya mengalami kenaikan gaji yang akibatnya secara kebebasan finansial adalah NOL Besar.

Dengan mengejar uang untuk mengejar kebutuhan hidup kita menurut Dan Ariely adalah sebuah jebakan yang disebut Hedonic Treadmill. Seakan-akan kita lari lebih cepat dan keras mengejar uang namun sebenarnya secara relatif kita diam ditempat karena obyek yang kita inginkan juga terus menjauh.

Seorang jutawan muda di Sillicon Valley pernah berkata:”setiap orang yang punya Lexus, menginginkan sebuah Porsche. Orang yang punya Porsche ingin membeli jet pribadi. It never stops“. Hedonic treadmill terjadi dimana-mana, tidak mengenal usia dan tempat; ini juga yang memicu jalan pintas seperti korupsi.

Seorang yang suka mengaku-ngaku sebagai pakar finansial freedom membanggakan dalam bukunya bahwa dia sudah mengalami kebebasan finansial dengan pendapatannya yang luar biasa melimpah dan bahkan sudah memiliki helikopter pribadi…

HA! what a dickhead!!

Dengan menggambarkan seperti itu saja, saya tahu dia sangat jauh dari kebebasan keuangan…karena menunjukkan ia sangat haus pengakuan 🙂

Bayangkan saja, setelah mempunyai helikopter, bahkan jika ia punya cukup uang untuk membiayainya, apakah keinginannya berhenti disitu. What next? Jet Pribadi? Yacht? Trip ke luar angkasa? Belum lagi keinginan untuk bisa diakui secara finansial dan intelektual, yang akan terus menambah pressure yang menjauhkan dia dari kebebasan.

Jadi apakah financial freedom adalah sesuatu yang mustahil?

Sebenarnya jawabannya tidak, kita masih bisa mencapai financial freedom, tapi TIDAK dengan mendewa-dewakan uang.

Para pakar yang bijak memberikan prinsip yang lebih sederhana tapi lebih susah dijalankan 😉

Prinispnya berbunyi:

Untuk mencapai kebebasan finansial, yang harus dilakukan bukanlah mengejar uang, menaikkan pendapatan atau terus mengejar pemasukan, namun mengontrol pengeluaran.

Ada lagi yang lain:

Setiap kali anda mendapatkan promosi dan kenaikan pemasukan, segera turunkan gaya hidup dan pengeluaran anda atau minimum dijaga agar tetap.

Sangat sederhana dan pasti berhasil. Tapi jujur saja, susahnya minta ampun! Observasi saya (terutama di Jakarta), gaji naik 2x lipat, gaya hidup naik 4x lipat :).

Dalam bahasa Yoga, Buddhism atau Zen, diungkapkan bahwa “untuk mencapai suatu kebebasan, kita harus berhenti mempunyai keinginan”. Karena kata Iwan Fals “keinginan adalah sumber penderitaan”.

Kesimpulannya, untuk mencapai kebebasan keuangan bukanlah dengan bekerja gila-gilaan mengejar uang, namun sebaliknya, bekerja dengan hati dan passion, serta mengontrol gaya hidup dan pengeluaran.

Simple, but NOT easy.