Your Weakness is Your Strength…..dan sebaliknya

Setelah membaca biografi Steve Jobs beberapa waktu lalu, saya baru tahu kalau pendiri Apple ini mempunyai kelemahan mencolok yakni tidak bisa multitasking dan mempunyai ego yang luar biasa besar..hampir lebih besar dari planet Jupiter:).

Oleh kalangan dekat seperti sahabat-sahabat dan keluarganya, Steve dikenal sebagai sosok yang suka memanfaatkan orang lain dan tidak kenal arti kata kesetiaan. Sejak sekolah sampai bekerja, ia juga dikenal sebagai orang yang tidak bisa mengerjakan banyak hal dan hanya mau mengerjakan hal-hal yang ia sukai saja.

Nah, ternyata seluruh kelemahan itulah yang menjadi kekuatan Steve membawa Apple sebagai perusahaan dengan brand yang luar biasa, dan dari segi inovasi sangat mencengangkan. Ketidakmampuannya untuk mengerjakan banyak hal, ternyata adalah sebuah kekuatan untuk fokus secara total untuk melakukan hal yang ia ingin wujudkan. Ego yang sangat tinggi membuat ia ingin menghasilan karya yang menurut kata-katanya “bisa meninggalkan jejak di semesta ini”, hanya mau menghasilkan sesuatu yang bisa menyamai masterpiece karya para seniman dunia. Sebagai CEO, pria yang sangat menggemari Bob Dylan ini, tidak seperti para CEO lain yang banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal berbau formalitas serta rapat-rapat rutin perusahaan, Steve Jobs banyak menghabiskan waktu dengan para engineer dan desainer Apple. Ia dikenal sebagai seorang yang luar biasa control freak untuk memastikan produk Apple baik hardware dan software memberikan pengalaman luar biasa bagi penggunanya.

Ternyata kelemahan kita, apapun itu,bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.

Kesimpulan ini setelah saya coba pikirkan lagi ternyata sangat relevan dengan pola kekuatan-kelemahan perusahaan-perusahaan dimaa saya pernah bekerja/berinteraksi. Sebuah perusahaan yang menurut saya mempunyai ritme/pace yang agak slow dalam pengambilan keputusan termasuk juga sangat lambat dalam jenjang karir, setelah saya amati ternyata menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lebih bijak (karena dipilih dan diseleksi secara hati-hati), punya value yang bagus sesuai value perusahaan serta menghasilkan bisnis yang sustainable.

Perusahaan lain yang saya juga cukup familiar mempunyai kelemahan cukup besar dalam leadership karena banyak mengandalkan headhunter dalam merekrut (alias membajak) para eksekutif untuk menghasilkan perubahan dan keuntungan secara cepat. Model seperti ini menghasilkan pola kepemimpinan yang sangat dinamis (kadang-kadang terlalu dinamis) dengan gaya yang biasanya lebih “kejam” yang sering tidak sesuai dengan value perusahaan itu sendiri, banyak intrik politik dan menuntut para anak buah untuk bekerja ekstra baik dalam menggunakan otak maupun waktu untuk bekerja sampai pagi.

Nah, perusahaan inipun menurut saya juga menghasilkan kekuatan yang luar biasa dalam hal kecepatan suatu bisnis untuk menghasilkan profit. Disiplin yang lebih bagus serta ketaatan akan komitmen deadline (karena kalau meleset dijamin kuping panas atau “ditendang” dari kursi kita) menjadikan perusahaan ini bisa berkompetisi dengan sangat efisien. Oleh karenanya, perusahaan ini bisa membayar lebih para eksekutifnya sehingga mampu menarik oang-orang yang bagus di industrinya.

Kesimpulannya, baik bagi personal maupun organisasi, kelemahan dan kekuatan adalah satu paket yang sangat tergantung bagaimana kita bisa membalance-nya. Orang China mungkin menyebutnya Yin-Yang, kalau orang Bali menyebutnya Rwa Bhinneda.

Dalam kekuatan selalu ada kelemahan, dalam kelemahan selalu ada kekuatan.

Bagaimana menurut anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: