Proyek Fiktif di Chevron? Kenapa Menurut Saya itu Hampir Mustahil

October 22, 2012

Sungguh tidak bisa dipercaya!

Kabar bahwa beberapa karyawan Chevron Indonesia Business Unit ditahan Kejaksaan Agung karena tuduhan bertanggung jawab atas adanya proyek fiktif sungguh mencengangkan saya.

Dengan tetap menghormati proses hukum yang sedang ditangani Kejaksaan Agung, saya ingin sharing opini dari kacamata orang awam hukum, namun cukup mengerti  budaya dan cara kerja Chevron karena saya pernah bekerja disana, walaupun hanya 5 tahun.

Saya menyadari bahwa pendapat saya mungkin akan bias, namun ijinkan saya berusaha seobyektif mungkin menganalisa dari sisi project manajement capability dan juga dari company value & culture. Saya pernah bekerja di dalam, pernah bekerja di perusahaan lain yang tidak kalah besarnya, dan sekarang bekerja sebagai konsultan, saya merasa berkewajiban menyampaikan apa nilai-nilai unggul Chevron dan kenapa hampir mustahil menciptakan proyek fiktif di perusahaan tersebut.

Ini opini saya.

Kenapa hampir mustahil membuat proyek fiktif di Chevron?

Karena mengatakan ada proyek fiktif di perusahaan minyak terbesar Indonesia ini hampir semustahil mengatakan pantai Kuta adanya bukan di Bali, tapi di Malaysia! Why?

Seperti halnya Pantai Kuta yang menjadi icon pulau Bali, Project Management adalah icon Chevron.

Dalam kalimat lain, justru project management adalah puncak keunggulan Chevron dibanding perusahaan-perusahaan lain.

Siapapun yang pernah bekerja di Chevron, baik mantan karyawan (seperti saya) apalagi yang masih bekerja disana, kalau ditanya apa yang paling diingat kalau kita menyebut nama Chevron, saya yakin 80% lebih  akan menyebut CPDEP.

 

CPDEP (Chevron Project Development and Execution Process) adalah kebanggaan sekaligus competitive advantage Chevron. Menurut pendapat pribadi saya, keunggulan project management inilah yang membuat Chevron mampu unggul dan mengakuisisi perusahaan minyak besar lain seperti Texaco (yang sangat jago dalam inovasi teknologi oil/gas) dan Unocal. Chevron sangat piawai mengelola proyek-proyek besar yang artinya mereka unggul dalam mengelola capital mereka; capital stewardship atau cara mengelola modal jumbo adalah syarat maha penting jika ingin sukses di dunia oil/gas.

Jika kita mau jujur, justru disinilah kelemahan perusahaan nasional jika ingin menjadi tuan rumah di bidang migas. Perusahaan nasional masih lemah dalam capital project management.

Nah, apa istimewanya CPDEP apalagi dalam kerangka proyek besar untuk environment ? Bagi yang belum familiar, bolehlah sharing saya ini dianggap Project Management 101 dan sedikit bocoran dari budaya perusahaan yang merupakan produsen minyak mentah terbesar di Indonesia ini.

Pertama, CPDEP menuntut disiplin dan ketelatenan luar biasa. Setiap project capital mendapat pengawasan dari manajemen yang sangat ketat. Apalagi jika project yang dikelola sudah melewati angka USD 5 juta, yang artinya perlu persetujuan BPMigas, biasanya perusahaan minyak manapun ga mau tanggung-tanggung menyiapkan agar tidak kehilangan kredibilitas dimata pemerintah Indonesia.

CPDEP mempunyai 5 phase dimana di tiap phase, akan akan ada tollgate review; project team harus membuat sebuah laporan dan dokumentasi super lengkap dalam paket yang disebut Decision Support Package (DSP). Setiap project manager menghabiskan waktu yang sangat panjang mempersiapkan DSP ini. Di masing-masing tollgate, DSP ini direview oleh DRB (Decision Review Board) yang terdiri dari manager-manager terkait. Jadi selalu diputuskan bersama oleh komite, bukan orang per orang. Jadi jika ada proyek fiktif, tidak mungkin yang bertanggung jawab hanya beberapa orang.

Nah bagi yang punya pengalaman project management, pasti mengalami sendiri bahwa seringkali antara satu phase menuju phase lain akan terjadi recycle (bolak-balik untuk diperbaiki) dan seringkali project di “kill” karena kurang meyakinkan.

Terus terang, saya mungkin tidak akan heran jika Chevron ditegur  BPMigas karena durasi project agak lama karena memang review-nya bolak-balik dengan level yang bisa dua sampai tiga layer. Boro-boro fiktif,  proyek yang lemah pasti tidak mungkin lolos sampai ke phase 3 (dimana project detail plan mulai dibuat).

Tapi adakah project yang kurang berhasil? Jawabannya tentu ada. Ini makanya ada tahap yang namanya lookback, alias setiap project dimonitor dan dipelajari: apakah sukses, apakah kurang berhasil, apa yang bisa dilakukan lebih baik, dan lain sebagainya,

Adakah karyawan yang curang? tentu ada. Tapi ini bersifat oknum atau perorangan. Dan setahu saya Chevron sangat keras dalam memastikan masalah integritas tidak dilanggar.

Dari yang saya tahu, pelanggaran integritas paling banyak di masalah pembelian barang atau urusan kontrak. Hanya di level itu, tidak mungkin sampai level proyeknya yang fiktif.  Di level intitusi, sangat kecil perusahaan multinasional bermain curang. Ini masalah integritas, yang akan saya jelaskan dalam poin kedua.

Kedua, sehubungan dengan integritas, menurut hemat saya, perusahaan Amerika sebesar Chevron akan sangat menghindari melanggar aturan pemerintah Amerika yang bernama FCPA (Foreign Corruption Protection Act).

 

Kepeleset di masalah FCPA, resikonya luar biasa, bisa mengancam induk perusahaan-nya.

Sanksi hukum, sanksi dari media dan Wall Street akan sangat sadis jika sampai terkena pelanggaran itu. Sehingga sepenetahuan saya, perusahaan-perusahaan Amerika seperti Chevron, GE (dimana saya juga pernah bekerja didalamnya) sangat tidak mau kena resiko melanggar FCPA. Setiap karyawan diwajibkan training dan certified setiap tahun (!) tentang hal ini. Membuat proyek fiktif bagi Chevron sama sekali ngga ada untung-untungnya jika melanggar FCPA. dan saya yakin setiap manajemen baik nasional maupun expat sangat-sangat paham hal ini. Why? Karena jika benar mau mendapatkan uang dari cara seperti itu, resikonya adalah bisa menjatuhkan Chevron corporation. Siapapun yang pernah menjadi manager di perusahaan amerika dan masih berpikir menggunakan otak, saya yakin TIDAK AKAN terbersit keinginan selintas-pun untuk melanggar FCPA. Ever. Tidak akan.

Ketiga, Proyek Bioremediasi adalah termasuk proyek HES (health, environment, safety). Ini adalah parameter tertinggi dalam prioritas Chevron. Setiap proyek yang berkaitan dengan kesehatan pegawai, lingkungan dan keselamatan, menduduki peringkat teratas bahkan lebih tinggi dibanding Produksi. Kalau boleh sharing, jika anda mengendarai mobil diatas 40 km/jam di lingkungan Chevron atau kedapatan tidak mengenakan sabuk pengaman, dapat dipastikan promosi anda atau kenaikan gaji anda akan ditunda. Itu yang basic dan kecil. Apalagi proyek besar dan high exposure seperti Bioremediasi, ini pasti mendapatkan perhatian yang sangat tinggi.

Nah, proyek Bioremediasi termasuk proyek yang mencakup ketiga poin diatas: dia menggunakan disiplin CPDEP, proyeknya besar (perlu persetujuan BPMigas) memerlukan integritas dan kehati-hatian tinggi dan termasuk dalam prioritas HES. Walaupun saya tidak mengikuti secara detil, saya 99.99% yakin keseluruhan proses akan mengikuti standar tertinggi yang ada di Chevron. Kalau dianalogikan orang, saya yakin proyek Bioremediasi ini adalah proyek VVIP.

Sangat kecil kemungkinan proyek ini fiktif.

Menurut saya, antara hasil aktual dibanding rencana mungkin ada perbedaan, hal inilah yang harusnya diuji dan diperdebatkan. Jadi itu murni masalah performance, dan bukan masalah fiktif atau proyek sungguhan. Jika hal-hal seperti ini dipidanakan, menurut saya Kejaksaan Agung mengambil asumsi terlalu besar. Bahkan IPA (Indonesian Petroleum Association), BPMigas, Kementerian Lingkungan Hidup pun dalam posisi yang sama dalam membela Chevron.

Demikian opini saya.

Saya menyadari bahwa opini saya hanya berdasarkan pemahaman secara proses dan culture perusahaan; bukan dari kacamata pemahaman hukum ataupun keterlibatan secara detil dalam proyek-nya. Namun demikian, saya selalu percaya, sebuah perusahaan yang bagus akan membangun sistem dan proses yang bagus. Jika dua-duanya bagus, niscaya hasilnya akan bagus.

Advertisements

street smarts, book smarts, dan kenapa orang yang tidak kuliah lebih sukses menjadi entrepreneur-innovator?

September 18, 2012

Beberapa waktu lalu saya perlu membeli tiket di sebuah counter resmi sebuah airlines. Karena mendadak, saya sampai kesorean. Baik satpam dan front-line nya menolak saya karena

“Maaf, kasir-nya sudah tutup, Pak”.

Berhubung lagi butuh banget, sambil jalan pulang saya coba mampir di sebuah travel kecil dekat rumah.Dan jawabannya?

“Bisa, Pak! Gampaang….”

Ini membawa ingatan saya pada sebuah pencarian panjang mencari jawaban, kenapa orang yang ngga “makan sekolahan” selalu lebih sukses sebagai entrepreneur dan dalam mengeluarkan inovasi baru.

Menurut saya,

Orang yang sudah banyak belajar dan lulus sarjana (book smarts) melihat dunia dan permasalahan dalam kotak keilmuan sesuai keahliannya. terlalu terkotak-kotak dalam profesi, jabatan dan organisasi; sedangkan pengusaha otodidak (street smarts) melihat dunia dan permasalahan secara utuh dari sisi pelanggan sebagai manusia.

Seorang sarjana marketing, hampir selalu menilai ketidakberhasilan suatu perusahaan sebagai masalah marketing: branding kurang kuat, channel communication salah, eksekusi iklan tidak tepat, dan sebagainya.

Seorang sarjana IT, melihat ketidakberhasilan suatu perusahaan karena teknologi ngga up-to-date, hardware dan software perlu diupgrade, banyak legacy system yang kuno, dan sebagainya.

Pakar supply chain management, pastinya akan menyalahkan desain dan eksekusi dari supply chain management perusahaan. Tidak lean, software tidak mendukung, dan sebagainya.

Orang HR? Biasanya ini komentarnya “wah sumber daya manusianya tidak dikelola dengan baik, makanya amburadul”

Pernah melihat debat tentang kemacetan Jakarta? Para politikus mengatakan kemacetan ini adalah masalah politik. Orang bisnis melihatnya sebagai masalah investasi. Para aktivis melihat ini bagian dari konspirasi perusahaan manufaktur mobil agar jualan tetap laku.

kesimpulannya…

If all you have is a hammer, everything looks like a nail

Book smarts jarang sekali melihat permasalahan bisnis sebagai suatu kesatuan dari sisi customer. Kita membawa pisau bedah analisis ke dalam setiap persoalan, sesuai dengan keahlian kita, tapi selalu lupa mensintesa pemikiran menjadi one big picture. 

for book smarts, expertise = business

Nah, bagaimana para street smarts berpikir dan bertindak?

Yang saya obervasi, para street smarts hampir semuanya berangkat dari solusi kepada customer-nya. Dalam cerita tentang tiket diatas, travel agent kecil ini tidak berpikir tentang apakah orang yang jadi kasir masih ada atau ngga. Mereka berpikir, pelanggan ini punya masalah, jadi harus dibantu…karena bagi entrepreneur, dengan memberi solusi, artinya roda perusahaan akan muter terus (alias duit dateng).

for street smarts, providing solution = business

para pebisnis yang ditempa di jalan, mata, telinga dan hidung mereka selalu terbuka untuk  ide dan inspirasi melihat permasalahan dari sisi “customer”. Mereka melihat dari kacamata pelanggan atau calon pelanggan. Apa peluang yang ada?

Kemudian “Aha!”lahirlah ide bisnis atau inovasi baru.

Street smarts tidak peduli apakah nanti perlu branding, supply chain management, IT…itu belakangan. Yang terpenting adalah apakah solusi ini akan berguna buat orang. Kalau berguna, roda bisnis pasti jalan.

“gua ga ngerti nanti gimana jalanin-nya karena gua ga sekolah…yang jelas ide gua kayak gini. Lu bantu cari orang-orang pinter buat di hire” *pernah denger kalimat ini?*

Dalam bahasa yang lebih canggih, street smarts selalu berpikir holistik, cross boundaries.. Mereka berangkat dari suatu kesadaran melihat peluang dari sisi customer. Ini terjadi karena mereka hidup di jalanan, ditempa oleh persaingan yang keras. Setiap masalah adalah peluang.

Book smarts berpikir secara silo dan fragmented. Orang sekolahan melihat segala sesuatu dari kotak ilmu.

Strategy. Economic Value Added. Process. Branding. Employee Engagement. Return on Investment. Compliance.

Blah blah blah.

Dari mana semua ini berasal?

Dari bangku kuliah.

University gives you expertise and (unconsciously) silo thinking.

Coba kita lihat, bagaimana universitas diatur. Ada Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Manajemen, Fakultas Kedokteran.Banyak lagi.

Nah, kalau kita lihat di dunia nyata, ada ngga permasalahan hidup yang satu dimensi? Adakah permasalahan hidup yang jelas-jelas hanya masalah ekonomi? Hanya masalah teknik? But most of us the graduates and scholars think that way!

Universitas, selain memberikan ilmu, juga memberikan kebanggaan profesi yang luar biasa. Para profesor sering tanpa sadar menanamkan kebanggaan profesi dan almamater dengan merendahkan jurusan/profesi dan universitas lain. Seakan-akan permasalahan di dunia ini bisa diselesaikan HANYA oleh profesi ini atau almamaternya. Tidak heran ada istilah “menara gading” bagi para pakar yang tidak pernah nyemplung dalam dunia nyata atau sudah nyemplung tapi tidak ada value yang nyata, kecuali teori yang canggih-canggih.Karena tidak relevan dengan dunia yang terlalu kompleks untuk dimodelkan dengan satu ilmu.

 

Moral of the story

Berhubung yang baca tulisan ini kemungkinan udah sempat terlanjur kuliah (para street smarts kemungkinan besar ga akan minat baca tulisan ini ;)), hal yang sangat penting buat kita adalah belajar keluar dari kotak keilmuan kita, dan selalu melihat dari sisi customer secara utuh.

Kita perlu belajar melihat peluang dari sisi pelanggan (I know, easier speak than done).

Kita perlu meruntuhkan sekat-sekat organisasi dan fungsional.

 

Kita perlu belajar berkolaborasi antar profesi, lintas almamater.

Sangat penting buat punya ekspertise. Sangat bagus pandai menganalisis.

Namun sangat penting untuk selalu menanyakan kepada diri kita sendiri:

Solusi apa yang saya berikan kepada masalah ini?


GE in Indonesia (kultwit of @handryGE Handry Satriago)

July 17, 2012

kemarin malam saya membaca rangkaian cuit  (kultwit) menarik dari Bung Handry Satriago via twitter. catatan: Handry Satriago adalah Presiden GE  Indonesia sekarang ini.

foto “diculik” dari facebook beliau

 

yang menarik dari kultwit ini (secara lengkap di link ini) bagi saya ada 3 poin besar:

– bahwa bekerja di multinational company tidak berarti harus menggadaikan idealisme ataupun rasa nasionalisme

– kutipan langsung “Kita harus yakin dan belajar bahwa orang Indonesia lah yang harusnya jago tentang menangani bisnis di Indonesia”–> penting buat anak muda, seperti kite-kiteee

– visi seperti yang disampaikan GE Indonesia seperti ini lebih menggairahkan, dibanding target 20% ROI (bagi anda yang pernah/masih kerja di GE, you know what I mean)

anyway, buat saya pribadi, sangat menyegarkan membaca sebuah visi seperti ini, dan tentu saja tantangannya adalah membuat ini jadi nyata.

And it reminds me that GE is one of the company that I always remember as an exciting place to work with a lot of great minds inside. 


Khusus buat mahasiswa: Free 1-Day Training Lean Six Sigma White Belt

July 5, 2012

Saya mewakili Variance Reduction International(VRI) Indonesia menginformasikan bahwa kami sedang menjadwalkan beberapa kelas White Belt gratis buat mahasiswa di berbagai kampus/universitas.

Jika ada kampus yang berminat, harap kontak saya melalui pesan di blog ini atau kirim email ke gedemanggala@variancereduction.com

Syaratnya cukup gampang:

1. Menyediakan tempat dan konsumsi yang diperlukan (minum, snack buat peserta)

2. Koordinasi untuk peserta (max 25 orang)

3. Mengatur jadwal

Seluruh peserta akan mendapatkan Lean Six Sigma White Belt Certificate dari Variance Reduction International (VRI), sebuah perusahaan yang berpusat di Houston, TX.


Kesempatan buat para praktisi Lean Six Sigma/Continuous Improvement

July 3, 2012

Lean Six Sigma Black Belt

(VRI) Variance Reduction International, Inc. – Indonesia

Job Description

Variance Reduction International (VRI)-Indonesia is looking for experienced Lean Six Sigma Black Belt to join our team in Indonesia to be part of our team in working with our client in improving process to make it safer, better, faster and lower cost.

Position Requirements:

  • Certified Lean Six Sigma or Six Sigma Black Belt
  • Expertise in executing the DMAIC roadmap for Lean Six Sigma projects
  • Expertise in Lean Six Sigma tools and methodology
  • Expertise in scoping a Lean Six Sigma project
  • Expertise in data analysis and interpretation
  • Physically able and willing to travel (Indonesia and SE Asia)
  • Completed two Lean/Six Sigma projects with a financially verified benefit (submit presentations of the projects along with application)
  • References from at least one Master Black Belt or a Manager (for  interview)
  • Proven facilitative leadership and project management skills
  • Minimum of two years of Lean Six Sigma experience
  • Able to work in a culturally diverse work environment
  • Good Communication Skill in Bahasa Indonesia and English

Desired Skills & Experience

Desirable Skill and Experiences (But Not Required Skills and Attributes):

  • Engineering background
  • Expertise in Kaizen facilitation
  • Change management expertise
  • Master degree/MM/MBA
  • Working in energy (oil/gas/geothermal)

Working schedule: The job requires a frequent travelling schedule

Qualified applicant please send CV/resume through LinkedIn or gedemanggala@variancereduction.com


sakit kepala, knowledge-based-management dan Lean Six Sigma

June 21, 2012

Sebuah pertanyaan sederhana

“Apa yang anda lakukan pertama kali ketika sakit kepala?”

Selama bertahun-tahun saya mengajukan pertanyaan ini kepada banyak sekali orang terutama dalam workshop dan training. Lebih dari 80% orang memberikan jawaban yang hampir sama:

 “Minum obat sakit kepala”

Bahkan para dokter pun menjawab sama.

Kenapa pertanyaan ini penting buat saya? Karena langsung minum obat kepala pada saat kita sakit kepala adalah contoh tindakan yang SALAH. Ini adalah contoh tindakan yang tidak berdasarkan pada knowledge. Itu adalah contoh tindakan yang “jump to the conclusion”.

Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca tentang sakit kepala, penyebab sakit kepala disebabkan oleh banyak macam kemungkinan:

Stress                                        Kepanasan              

Flu                                              Tidak harmonis dengan atasan

Sangat Lapar                             Masalah keuangan

Kurang Tidur                             Masalah pada mata

Nyeri pinggang                          Penyakit saraf

Tumor Otak                                Anak di masa puber

Nah, bayangkan jika anda minum obat sakit kepala sedangkan yang menjadi penyebab adalah ada masalah pada mata, misalnya kacamata anda minusnya nambah. Minum obat sakit kepala hanya menghilangkan symptom bukan akar masalah.

Tindakan yang tepat jika kita mengalami sakit kepala adalah melakukan pemeriksaan lebih lanjut misalnya detak jantung, suhu badan, dan indikator lain (lebih bagus dilakukan oleh dokter) untuk memastikan apa penyebab sakit kepala ini. Jika akar masalah sudah ditemukan, barulah kita beri obat.

Jika sakit kepala terjadi karena kacamata harus diganti, gantilah kacamata…bukannya minum obat sakit kepala.

Jika sakit kepala terjadi karena kurang tidur, nah tidurlah…

Jika sakit kepala terjadi karena hubungan kurang harmonis dengan atasan? (silahkan cari solusi sendiri…)

Intinya, setiap tindakan dan solusi, harus berdasarkan pada pencarian akar masalah yang tepat dengan menggunakan semua data, informasi, dan  knowledge. Inilah yang disebut Knowledge Based Management.

Lean Six Sigma bertolak dari cara berpikir yang sama.

Setiap permasalahan bisnis, harus dikaji dan dicari akar permasalahannya dengan menggunakan data, informasi dan knowledge. Walaupun terdengar sangat simpel, namun dalam kenyataannya sedikit sekali manajer dan pengambilan keputusan setia kepada prinsip ini.

Bagaimana dengan anda?


the Pearl Jam way

February 21, 2012

Disclaimer: a lot of strong f words. I need to borrow a rock band energy;)

can a rock band inspire professionals, consultants, designers, and even corporate employees?

yes, it can.

Pearl Jam did to me and to many other people that I have been known for more than 15 years. If Steve Job was inspired by Bob Dylan, many of Pearl Jam fans influenced by this Seattle band not only musically but also professionally and philosophically (almost about to say religiously…)

I am quite expecting that the band itself or many fans might be saying “WTF?” with this kind of article, but I’ll write it anyway. Simply because it’s true to me.

Pic from Pearl Jam flickr

So, what’s the Pearl Jam way that inspires me?

1. Love your fans, love your customers, love your tribe

If you form a band, there will be some people who really like you, and many others hate you. That’s the fact. For your fans, love them a lot. For the ones who hate you, fuck them. I mean, fuck them. That’s what I learn from the band who has produced hundreds of live concert bootlegs. Don’t ever spend a minute trying convince the haters to love you…even Jesus, Muhammad, Gandhi, Buddha has group of haters. That’s just natural.

It’s no secret that PJ loves their fans. In the past we have read a lot about this band efforts to “fight” Ticketmaster to make the ticket price more affordable to teenager fans.  Having heard/seen a lot of live shows on CD, DVD (only one live concert for me, unfortunately), I could feel the love of the band. It can be felt also when I received the christmas vinyl (don’t have any player to play it) but I just love the packaging and artwork.

If you are not artist, your customers are the one who love you. If you work in hospital, your patients are the ones who care about you. That’s why they COME to you. So, love them back…

love the ones who love you..the people who likes you, who care about you.

2. Love what you do

Pearl Jam as I know is a bunch of people who love to listen to music, love to see other good bands playing live and love to play some rock songs.If you love what you do, then for people who like you, your work becomes a gift.

If you love you do, your works seems effortless…or you don’t feel like it’s work at all..

If it’s true for artist, then it’s true for engineer, accountant, lawyer, janitor…Work can be fun and can make other people happy.

3. Perform as it is the last performance

There’s Pearl Jam’s collection when they were playing in State College around 2003; they play until past midnite just like there’s no tomorrow…There’s the Madison Square Garden DVD showing the arena bumps like an earthquake…Live at the Gorge where the collection is almost 3 CDs of live songs, the 100 songs when they play in Boston for couple days..it’s just like in every performance they try to rock like that would be the last show!

For us who is not an artist, we have our own stage. Our mundane work is our show.  Play it like a fucking rock n roll band!

4. Take control your own destiny

When you are climbing the ladder of “success”, there will be a situation that your success will take you away from your original idea of why you are doing that job. And suddenly you don’t feel like it anymore.

A band like PJ, in their heydey will be asked to do interviews (which any rookie would be happy to do it), a lot of interviews (when they will need to answer a lo of repetitive questions, like hobby, or childhood memory), play in a movie, be a celebrity endorser for household products, fake performance on TV and  lipsync, be a magazine covers, and many things which have nothing to do with the one that they love: musics.

But their label woud ask them to do it, their fans want them,  and of course TV, Magazine, Newspaper, Tabloid wants them to do it. There will be money involved. Tons of money. Every successful band and artist do it! Even now..!

One of the thing I learn from one of the few band who’s still standing strong from the 90s era, they learn to say NO. Its simply because they want to focus on what they like, playing couple songs they like for their fans.

Saying NO is not easy, especially if saying YES means we will get a lot of money to do things that you don’t like. There’s always trade off, but I will choose the path that will keep us sane and sober. No suicide, no drugs drama, no bullshit.

That’s my thinking on Pearl Jam. What do you think?