“Question everything generally thought to be obvious”

February 7, 2012

words from one of the most respected designers,  Dieter Rams.

In fact, it could be applied in many aspect in life beyond design.

pic taken at SF MOMA Feb’12

Advertisements

jon dan joni: para pencipta masterpiece

February 2, 2012

gambaran ideal saya tentang bekerja saat ini sangat terinspirasi dari dua orang berikut: Jon Favreau, Chief Speechwriter dari Presiden Obama dan Jony Ive, Senior VP Industrial Design untuk Apple.

Keduanya masih muda, menghasilkan karya luar biasa serta memiliki karakter dan style yang dalam satu kata bisa disebut: Remarkable

Jon Favreau

Presiden Obama menyebutnya sebagai pembaca pikirannya. Jon atau dipanggil juga sebagai Favs, tahun ini baru akan berumur 31 tahun, adalah orang kepercayaan Obama dalam menulis pidato dan menjabat sebagai Chief Speechwriter termuda dalam sejarah Gedung Putih. Ini sangat menarik karena Sang Presiden sendiri dikenal sebagai penulis dan orator yang luar biasa.

Jon mulai bekerja sebagai penulis pidato untuk Obama sejak presiden pertama African American ini menjadi senator di tahun 2004. Alkisah, Jon yang saat itu baru lulus kuliah di usia 23 tahun masih bekerja untuk John Kerry (kandidat presiden saat itu) menginterupsi Barack Obama yang sedang berlatih untuk memberikan sambutan untuk Kongres Partai Demokrat saat itu. Walaupun tidak terlalu terkesan dengan resume-nya yang belum ada apa-apanya kecuali magang di SenatorKerry, Barack Obama waktu itu mengundang Jon untuk interview dan akhirnya berpendapat mungkin anak muda ini bisa bekerjasama dengan dia dalam masa kampanye.

 

source: The Washington Post

 

Sejak itu, Favs ditarik menjadi speechwriter, yang berarti seluruh pidato kampanye Obama sampai pidato pelantikan dan sampai sekarang adalah hasil sentuhan anak muda ini. Tentunya butuh talenta dan kerja keras luar biasa untuk bisa dipercaya seorang presiden negara adikuasa dan untuk tetap memberikan “value” dalam setiap karya

 

Jony Ive

Menurut istri Steve Jobs, pendiri Apple ini tidak mempunyai loyalty kepada pegawai maupun teman-temannya…kecuali pada Jony Ive.

Desainer yang tahun ini baru memasuki usia 45 tahun ini adalah orang yang menjadi kepala desainer untuk iMac, PowerBook, MacBook Air, iPod, iPhone, dan iPad. Steve Jobs sangat mengagumi pria Inggris ini karena menurut Steve, anak buahnya ini adalah seorang seniman sejati.

 

source: allaboutstevejobs.com

Sebelum bergabung dengan Apple, pria yang sekarang sudah mendapat gelar kehormatan bangsawan dari Ratu Inggris ini adalah co-founder dari Tangerine, sebuah perusahaan konsultan desain. Jony mendapat kehormatan yang sangat tinggi dari Steve Jobs dan menjadikan Desain sebagai inti dari operasi Apple, dimana bagian lain seperti Engineering dan Manufacturing harus bisa mengikuti desain. Ini berbeda dengan perusahaan lain dimana desain pada akhirnya berkompromi karena produk susah dibuat sesuai desain atau tidak ada material yang cocok.

Apa yang bisa dipelajari?

Bekerja di jaman ini berarti mencari kekuatan kita dan fokus dalam mengasah kekuatan itu sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

Menjadi Remarkable.


Your Weakness is Your Strength…..dan sebaliknya

December 30, 2011

Setelah membaca biografi Steve Jobs beberapa waktu lalu, saya baru tahu kalau pendiri Apple ini mempunyai kelemahan mencolok yakni tidak bisa multitasking dan mempunyai ego yang luar biasa besar..hampir lebih besar dari planet Jupiter:).

Oleh kalangan dekat seperti sahabat-sahabat dan keluarganya, Steve dikenal sebagai sosok yang suka memanfaatkan orang lain dan tidak kenal arti kata kesetiaan. Sejak sekolah sampai bekerja, ia juga dikenal sebagai orang yang tidak bisa mengerjakan banyak hal dan hanya mau mengerjakan hal-hal yang ia sukai saja.

Nah, ternyata seluruh kelemahan itulah yang menjadi kekuatan Steve membawa Apple sebagai perusahaan dengan brand yang luar biasa, dan dari segi inovasi sangat mencengangkan. Ketidakmampuannya untuk mengerjakan banyak hal, ternyata adalah sebuah kekuatan untuk fokus secara total untuk melakukan hal yang ia ingin wujudkan. Ego yang sangat tinggi membuat ia ingin menghasilan karya yang menurut kata-katanya “bisa meninggalkan jejak di semesta ini”, hanya mau menghasilkan sesuatu yang bisa menyamai masterpiece karya para seniman dunia. Sebagai CEO, pria yang sangat menggemari Bob Dylan ini, tidak seperti para CEO lain yang banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal berbau formalitas serta rapat-rapat rutin perusahaan, Steve Jobs banyak menghabiskan waktu dengan para engineer dan desainer Apple. Ia dikenal sebagai seorang yang luar biasa control freak untuk memastikan produk Apple baik hardware dan software memberikan pengalaman luar biasa bagi penggunanya.

Ternyata kelemahan kita, apapun itu,bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.

Kesimpulan ini setelah saya coba pikirkan lagi ternyata sangat relevan dengan pola kekuatan-kelemahan perusahaan-perusahaan dimaa saya pernah bekerja/berinteraksi. Sebuah perusahaan yang menurut saya mempunyai ritme/pace yang agak slow dalam pengambilan keputusan termasuk juga sangat lambat dalam jenjang karir, setelah saya amati ternyata menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lebih bijak (karena dipilih dan diseleksi secara hati-hati), punya value yang bagus sesuai value perusahaan serta menghasilkan bisnis yang sustainable.

Perusahaan lain yang saya juga cukup familiar mempunyai kelemahan cukup besar dalam leadership karena banyak mengandalkan headhunter dalam merekrut (alias membajak) para eksekutif untuk menghasilkan perubahan dan keuntungan secara cepat. Model seperti ini menghasilkan pola kepemimpinan yang sangat dinamis (kadang-kadang terlalu dinamis) dengan gaya yang biasanya lebih “kejam” yang sering tidak sesuai dengan value perusahaan itu sendiri, banyak intrik politik dan menuntut para anak buah untuk bekerja ekstra baik dalam menggunakan otak maupun waktu untuk bekerja sampai pagi.

Nah, perusahaan inipun menurut saya juga menghasilkan kekuatan yang luar biasa dalam hal kecepatan suatu bisnis untuk menghasilkan profit. Disiplin yang lebih bagus serta ketaatan akan komitmen deadline (karena kalau meleset dijamin kuping panas atau “ditendang” dari kursi kita) menjadikan perusahaan ini bisa berkompetisi dengan sangat efisien. Oleh karenanya, perusahaan ini bisa membayar lebih para eksekutifnya sehingga mampu menarik oang-orang yang bagus di industrinya.

Kesimpulannya, baik bagi personal maupun organisasi, kelemahan dan kekuatan adalah satu paket yang sangat tergantung bagaimana kita bisa membalance-nya. Orang China mungkin menyebutnya Yin-Yang, kalau orang Bali menyebutnya Rwa Bhinneda.

Dalam kekuatan selalu ada kelemahan, dalam kelemahan selalu ada kekuatan.

Bagaimana menurut anda?


Opportunity for Lean-Six Sigma Black Belt in Indonesia

November 24, 2011

I am excited to post an opportunity for any Lean Six Sigma Black Belt and Process Improvement practicioners in Indonesia:

Variance Reduction International (VRI)-Indonesia is looking for experienced Lean Six Sigma Black Belt/Practicioners to join our team in Indonesia, with this requirement:
Position Requirements:

  • Certified Lean Six Sigma or Six Sigma Black Belt
  • Engineering degree
  • Expertise in executing the DMAIC roadmap for Lean Six Sigma projects
  • Expertise in Lean Six Sigma tools and methodology
  • Expertise in scoping a Lean Six Sigma project
  • Expertise in data analysis and interpretation
  • Physically able and willing to travel (Indonesia and SE Asia)
  • Completed two Lean/Six Sigma projects with a financially verified benefit (submit presentations of the projects along with application)
  • References from at least one Master Black Belt (for  interview)
  • Proven facilitative leadership and project management skills
  • Minimum of two years of Lean Six Sigma experience
  • Able to work in a culturally diverse work environment

Desirable But Not Required Skills and Attributes:

  • Expertise in Kaizen facilitation
  • Change management expertise
  • Master degree/MM/MBA

Working schedule: Back to Back (BTB) 10 working days on,10 days off

For interested applicants please send CV to gedemanggala@variancereduction.com


menuju financial freedom: mengejar bayangan semu?

November 12, 2011

berlawanan dengan pendapat para “pakar” financial freedom, menurut saya probabilitas orang awam sangat kecil untuk mencapai sukses dalam kebebasan finansial jika  mengejar itu dengan cara yang diajarkan para “master” yang sering berbicara dalam talkshow atau lewat buku-buku seperti “Cara Singkat Menjadi Kaya” atau “Pensiun Muda Kaya Raya”.

Ini dua dogma dan prinsip yang sering diajarkan kepada orang awam, yang menurut saya mempunyai kelemahan mendasar:

1. Cari Uang Sebanyak-banyaknya agar bisa “Pensiun Muda”

Sekarang coba kita ingat-ingat, diantara orang terkaya sedunia, siapa diantara mereka yang sudah memutuskan untuk “pensiun”. Bill Gates masih bekerja, bahkan Warren Buffet juga masih bekerja. Bagaimana dengan Larry Page dan Sergei Brin para milyuner muda pendiri Google? Steve Jobs hanya bisa dipensiunkan oleh penyakit dan kematian.

Pada akhirnya, ketika kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi oleh keuangan kita, maka ada kebutuhan lain yang akan menuntut untuk dipenuhi misalnya “power” dan pengakuan, seperti teori Maslow.

Asumsi dasar para “pakar” financial freedom bahwa kita perlu mencari uang sebanyak-banyaknya sekarang sehingga kita bisa pensiun muda dari pekerjaan kita sekarang adalah sangat keliru dan juga menyiratkan bahwa siapapun yang percaya dengan ide ini adalah orang-orang yang tidak menyukai pekerjaannya sekarang. Get an exciting job, instead 🙂

2. Cari uang sebanyak-banyaknya, sehingga semua kebutuhan kita akan terpenuhi dan kita terbebas dari masalah.

Secara dangkal, prinisip ini sangat masuk akal, namun kalau dipikirkan lebih lanjut, dogma ini keliru besar.

Dan Ariely, dalam bukunya Predictably Irrational, menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan yang sangat buruk dalam memprediksi kemampuan mereka dalam beradaptasi, baik adaptasi untuk keadaan yang lebih baik maupun yang lebih buruk.

Misalnya, pada waktu saya mempunyai gaji satu juta rupiah per bulan, saya mempunyai pemikiran bahwa hidup saya akan jauh lebih berkecukupan jika gaji saya naik 5x lipat menjadi 5 juta rupiah per bulan. Betul? Betul, hanya untuk bulan pertama:)

Tanpa saya sadari (atau sudah sadar tapi memang menikmati), semua kebutuhan saya juga malah meningkat dengan drastis, mulai butuh baju yang lebih keren, parfum, handphone yang lebih bagus, dan….hmmm tampaknya saya sekarang butuh mobil!

Pola yang sama terus terjadi setiap kali saya mengalami kenaikan gaji yang akibatnya secara kebebasan finansial adalah NOL Besar.

Dengan mengejar uang untuk mengejar kebutuhan hidup kita menurut Dan Ariely adalah sebuah jebakan yang disebut Hedonic Treadmill. Seakan-akan kita lari lebih cepat dan keras mengejar uang namun sebenarnya secara relatif kita diam ditempat karena obyek yang kita inginkan juga terus menjauh.

Seorang jutawan muda di Sillicon Valley pernah berkata:”setiap orang yang punya Lexus, menginginkan sebuah Porsche. Orang yang punya Porsche ingin membeli jet pribadi. It never stops“. Hedonic treadmill terjadi dimana-mana, tidak mengenal usia dan tempat; ini juga yang memicu jalan pintas seperti korupsi.

Seorang yang suka mengaku-ngaku sebagai pakar finansial freedom membanggakan dalam bukunya bahwa dia sudah mengalami kebebasan finansial dengan pendapatannya yang luar biasa melimpah dan bahkan sudah memiliki helikopter pribadi…

HA! what a dickhead!!

Dengan menggambarkan seperti itu saja, saya tahu dia sangat jauh dari kebebasan keuangan…karena menunjukkan ia sangat haus pengakuan 🙂

Bayangkan saja, setelah mempunyai helikopter, bahkan jika ia punya cukup uang untuk membiayainya, apakah keinginannya berhenti disitu. What next? Jet Pribadi? Yacht? Trip ke luar angkasa? Belum lagi keinginan untuk bisa diakui secara finansial dan intelektual, yang akan terus menambah pressure yang menjauhkan dia dari kebebasan.

Jadi apakah financial freedom adalah sesuatu yang mustahil?

Sebenarnya jawabannya tidak, kita masih bisa mencapai financial freedom, tapi TIDAK dengan mendewa-dewakan uang.

Para pakar yang bijak memberikan prinsip yang lebih sederhana tapi lebih susah dijalankan 😉

Prinispnya berbunyi:

Untuk mencapai kebebasan finansial, yang harus dilakukan bukanlah mengejar uang, menaikkan pendapatan atau terus mengejar pemasukan, namun mengontrol pengeluaran.

Ada lagi yang lain:

Setiap kali anda mendapatkan promosi dan kenaikan pemasukan, segera turunkan gaya hidup dan pengeluaran anda atau minimum dijaga agar tetap.

Sangat sederhana dan pasti berhasil. Tapi jujur saja, susahnya minta ampun! Observasi saya (terutama di Jakarta), gaji naik 2x lipat, gaya hidup naik 4x lipat :).

Dalam bahasa Yoga, Buddhism atau Zen, diungkapkan bahwa “untuk mencapai suatu kebebasan, kita harus berhenti mempunyai keinginan”. Karena kata Iwan Fals “keinginan adalah sumber penderitaan”.

Kesimpulannya, untuk mencapai kebebasan keuangan bukanlah dengan bekerja gila-gilaan mengejar uang, namun sebaliknya, bekerja dengan hati dan passion, serta mengontrol gaya hidup dan pengeluaran.

Simple, but NOT easy.


Ini ide BESAR saya: mari LAKUKAN hal yang KECIL dengan sangat sangat baik :D

October 29, 2011

Sebuah kolom di koran Kompas (lupa kapan, hanya baca sekilas judulnya saja) kira-kira berbunyi: SBY butuh Gagasan Besar untuk Mengejar Ketertinggalan.

Menurut saya, gagasan BESAR yang diperlukan sebenarnya adalah: MELAKUKAN apa yang sudah diomongkan, dijanjikan dan ditargetkan. Ga usah cari gagasan dulu nanti kebanyakan rencana dan janji 🙂

Saya punya pemikiran, daripada mikirin negara ini yang sekarang dipimpin banyak orang tua dan orang muda yang keblinger dan sibuk dengan mencari gagasa besar, gimana jika kita  melakukan tiga hal kecil ini dengan sangat baik. Maksudnya dengan sangat sangat sangaaaat baik.

1. Tidak korupsi atau tidak mengambil yang bukan hak kita

2. Buang sampah pada tempatnya

3. Tidak menyalip dari kiri kalau sedang nyetir.

Saya yakin, kita bisa jadi bangsa hebat kalau 60% rakyat Indonesia melakukan hal kecil itu dengan disiplin.

MAU?


apakah kita, Bangsa Indonesia, adalah bangsa penakut?

October 14, 2011

sayang sekali, menurut saya jawabannya adalah YA, kita memang bangsa penakut.

berlawanan dengan apa yang diajarkan kepada kita, atau yang kita ingin percaya bahwa kita adalah bangsa pemberani, melalui serangkaian pemikiran saya mengambil kesimpulan bahwa yang benar adalah sebaliknya.

sebelum anda menghujat saya atau menganggap saya memandang dunia secara negatif, ada baiknya anda membaca logika berpikir saya kenapa sampai pada kesimpulan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa penakut.

Ini adalah FAKTA yang mendasari kesimpulan saya:

1. Kita dijajah secara fisik, ekonomi, pemerintahan dan militer oleh Bangsa Belanda selama hampir 350 tahun dan oleh Bangsa Jepang selama 3.5 tahun. Kalau kita bangsa yang berani tentunya kita tidak akan terjajah selama itu.

2. Kita tidak merdeka secara ekonomi sampai hari ini. Modal utama ekonomi bangsa kita adalah pinjaman dan investasi dari negara luar. Kalau kita bangsa yang berani, kita seharusnya sudah merdeka secara ekonomi. Investasi dan hutang luar negeri tentunya sangat bagus, namun bukan berarti itu yang menjadi sumber utama 😦

3. Korupsi merajalela dimana-mana; kalau sebelumnya di jaman Soeharto korupsi tersentralisasi di keluarga besar beliau dan kroni-kroninya, sekarang Korupsi mengalami pemerataan yang seadil-adilnya di berbagai daerah dan sektor. Jika saya bertanya kepada famili, teman, pemimpin yang saya kenal, hampir semua bilang mereka anti korupsi dan akan melawan jika ada korupsi di dekat mereka. Kenyataannya adalah kita terlalu takut untuk mengatakan hal yang benar atau bahkan menegur jika kita tahu saudara atau atasan kita ada yang korupsi.

4. Jangankan untuk skala besar seperti korupsi….untuk level yang lebih kecil saja kita tidak berani mengatakan hal yang benar atau berani mendudukkan hal yang benar:

a. Polisi cepek dan tukang parkir liar dimana-mana…kita tidak berani menegur mereka

b. Sopir Bis menyalip dari bahu jalan….kita tidak berani menegur mereka

c. Orang buang sampah sembarangan…kita tidak berani menegur mereka

Bukan salah pemimpin!

Tentunya mudah mengatakan ini adalah kesalahan Presiden, Gubernur, Kapolda atau para pemimpin lain…

Dan ini menguatkan kesimpulan saya, karena bangsa yang penakut adalah bangsa yang selalu menyalahkan orang lain terutama para pemimpinnya 🙂

Oh ya, banyak sekali individu-individu pemberani di sekitar kita. Saya setuju.

Tapi yang saya bicarakan adalah kita sebagai sebuah BANGSA bukan individu. Banyak individu pemberani, tapi sebagai bangsa kita penakut. Ibaratnya jika sebuah tim sepakbola bertanding, jika hanya satu orang pemain yang berani sementara yang lain penakut, sebagai tim mereka akan kalah. That’s the only thing that matters. Sebuah tim…sebuah bangsa.

Kesalahpahaman: Suka berkelahi, pemarah dan mengamuk bukanlah tanda keberanian:)

Jika ada orang dekat anda yang gemar marah, cepat emosi atau suka mengamuk itu bukanlah tanda orang pemberani..justru itu adalah tanda penakut.

Orang penakut karena “insecure” bisa dilihat dari dua model: Violence atau Silence. To fight or to flight.

Orang penakut, kalau ngga ngamuk ya diem saja atau lari dari masalah.

Jadi kalau melakukan bom bunuh diri, itu ciri-ciri orang penakut karena dia tidak berani menghadapi kenyataan hidup, tidak berani berhadapan dengan kenyataan yang dia tidak suka.

Orang yang pemberani akan menghadapi persoalan di depannya dengan kepala dingin dengan tujuan persoalan selesai dan semua pihak bisa mendapatkan manfaat. Susah? Tentu saja…makanya menjadi orang pemberani susah.

Sebuah ironi

Tentunya yang menjadi ironi besar adalah saya termasuk dalam individu penakut dalam bangsa penakut. Tapi saya sudah mulai capek menjadi bagian dari sebuah bangsa dengan kualitas mediocre, korupsi dimana-mana dengan hutang yang harus ditanggung anak-cucu saya.