Apple revenue & 80/20 rule: melihat fokus di dalam kerumitan

November 1, 2012

Beberapa hari yang lalu saya melihat grafik menarik berikut dari situs businessinsider; menunjukkan angka penjualan Apple  sampai Sep’12.

Sangat clear terlihat apa yang menjadi key driver dari pertumbuhan penjualan Apple sekarang ini: iPhone dan iPad. Dalam bahasa manajemen, kedua produk ini adalah the Vital Few, dua yang sangat penting diantara produk-produk/service Apple lain seperti iPod, Macbook Air, Macbook Pro, iTunes, software dan lain-lain.

Inilah contoh nyata betapa universal-nya prinsip pareto atau prinsip 80/20. Selalu ada segelintir faktor yang menjadi key driver utama.

Kenapa menarik buat kita? Karena Prinsip 80/20 adalah senjata utama kita dalam melakukan perubahan dan perbaikan dengan cepat!

Dalam contoh Apple, Tim Cook dan manajemen-nya pasti mati-matian mempertahankan segala hal terkait iPhone dan iPad.

Buat kita, prinsipnya adalah we got to find our own Vital Few. Ini basic yang sering dilupakan banyak orang ditengah terpaan dan banjir permasalahan.

Dalam interaksi saya dengan banyak orang dalam kerangka problem solving atau process improvement, sering sekali saya mendengar statement berikut:

“saya tidak tahu harus mulai dari mana Pak, penyebab kerusakan di sini banyak sekali”

“Ribet Pak, produk kami buanyak buanget…saya aja ngga tahu semuanya. Yang jelas kita merugi, cuma saya tidak tahu mesti fokus ke produk yang mana”

“problem di perusahaan saya sudah kayak benang kusut…terlalu banyak masalah, terlalu banyak departemen, terlalu banyak prioritas!”

Tantangan utama di jaman ini adalah bagaimana kita memilih prioritas dan melaksanakan itu sampai tuntas.

Teknologi seperti laptop, koneksi internet, social media…membantu kita semua dalam melakukan komunikasi lebih cepat, kolaborasi lebih luas, dan akses ke dalam knowledge yang hampir tak terhingga.

TAPI…

Semua itu membawa konsekuensi: kita kebanjiran informasi, kebanjiran persoalan, kebanjiran aktivitas. Inflow problems dan hal yang harus dikerjakan menyamai inflow informasi yang masuk ke dalam inbox kita: di PC, laptop, tablet, smatphone.

Kita tenggelam dalam lautan data, informasi, dan masalah.

Namun ada tool yang sangat efektif: Prinsip 80/20. Ini senjata rahasia (umum) orang-orang yang melakukan problem solving. Para desainer solusi.

Di tahun 1906, Vilvredo Pareto menemulan fakta bahwa 20% dari penduduk Italia menguasai 80% kekayaan negara itu. Yang mengejutkan adalah ia menemukan pola yang sama berulang di negara-negara Eropa lainnya. Ini kemudian dikenal dengan Prinsip Pareto.

Di tahun 1950-1960an, Joseph Juran menggunakan Prinsip Pareto untuk menyelesaikan masalah-masalah produksi di pabrik-pabrik. Ia juga menemukan pola yang sama: ada sekitar 20% dari masalah yang berkontribusi terhadap 80% output yang kita inginkan. Dalam bahasa Juran: there are “Vital Few” over the “Trivial Many”.

Belakangan ini Robert Koch kembali mengkampanyekan Prinsip 80/20 dalam buku-bukunya.

Baik Pareto, Juran dan Koch menyimpulkan hal yang sama: di dalam sebuah populasi (entah itu manusia, produk, masalah, projects, partai) akan ada sekitar 20% atau kurang yang berkontribusi sangat besar terhadap output.

Contoh-contoh lain:

di Indonesia mungkin lebih dari 60% kekayaan nasional hanya dikuasai kurang dari 5% warga negara Indonesia.

Dari 13.000 pulau di Indonesia, yang menjadi tulang punggung dan vital bagi Indonesia mungkin kurang dari 15 pulau.

Di dalam Blackberry kita ada lebih dari 25 software/aplikasi, namun bisa dipastikan yang paling vital bagi kita mungkin kurang dari 5 (dalam contoh saya, vital few adalah: BBM, email, SMS, contact).

Key Takeaway:

Jika anda sedang tenggelam dalam puluhan proyek, puluhan permasalahan, carilah the vital few: key driver yang akan menjadi penentu output anda. Apapun itu.

Jika anda mengerjakan 10 aktivitas/initiative/proyek, ada kecenderungan kita menganggap kesepuluhnya sama pentingnya. Lihat lagi, telaah dengan baik, temukan the Vital Few.

Advertisements

jon dan joni: para pencipta masterpiece

February 2, 2012

gambaran ideal saya tentang bekerja saat ini sangat terinspirasi dari dua orang berikut: Jon Favreau, Chief Speechwriter dari Presiden Obama dan Jony Ive, Senior VP Industrial Design untuk Apple.

Keduanya masih muda, menghasilkan karya luar biasa serta memiliki karakter dan style yang dalam satu kata bisa disebut: Remarkable

Jon Favreau

Presiden Obama menyebutnya sebagai pembaca pikirannya. Jon atau dipanggil juga sebagai Favs, tahun ini baru akan berumur 31 tahun, adalah orang kepercayaan Obama dalam menulis pidato dan menjabat sebagai Chief Speechwriter termuda dalam sejarah Gedung Putih. Ini sangat menarik karena Sang Presiden sendiri dikenal sebagai penulis dan orator yang luar biasa.

Jon mulai bekerja sebagai penulis pidato untuk Obama sejak presiden pertama African American ini menjadi senator di tahun 2004. Alkisah, Jon yang saat itu baru lulus kuliah di usia 23 tahun masih bekerja untuk John Kerry (kandidat presiden saat itu) menginterupsi Barack Obama yang sedang berlatih untuk memberikan sambutan untuk Kongres Partai Demokrat saat itu. Walaupun tidak terlalu terkesan dengan resume-nya yang belum ada apa-apanya kecuali magang di SenatorKerry, Barack Obama waktu itu mengundang Jon untuk interview dan akhirnya berpendapat mungkin anak muda ini bisa bekerjasama dengan dia dalam masa kampanye.

 

source: The Washington Post

 

Sejak itu, Favs ditarik menjadi speechwriter, yang berarti seluruh pidato kampanye Obama sampai pidato pelantikan dan sampai sekarang adalah hasil sentuhan anak muda ini. Tentunya butuh talenta dan kerja keras luar biasa untuk bisa dipercaya seorang presiden negara adikuasa dan untuk tetap memberikan “value” dalam setiap karya

 

Jony Ive

Menurut istri Steve Jobs, pendiri Apple ini tidak mempunyai loyalty kepada pegawai maupun teman-temannya…kecuali pada Jony Ive.

Desainer yang tahun ini baru memasuki usia 45 tahun ini adalah orang yang menjadi kepala desainer untuk iMac, PowerBook, MacBook Air, iPod, iPhone, dan iPad. Steve Jobs sangat mengagumi pria Inggris ini karena menurut Steve, anak buahnya ini adalah seorang seniman sejati.

 

source: allaboutstevejobs.com

Sebelum bergabung dengan Apple, pria yang sekarang sudah mendapat gelar kehormatan bangsawan dari Ratu Inggris ini adalah co-founder dari Tangerine, sebuah perusahaan konsultan desain. Jony mendapat kehormatan yang sangat tinggi dari Steve Jobs dan menjadikan Desain sebagai inti dari operasi Apple, dimana bagian lain seperti Engineering dan Manufacturing harus bisa mengikuti desain. Ini berbeda dengan perusahaan lain dimana desain pada akhirnya berkompromi karena produk susah dibuat sesuai desain atau tidak ada material yang cocok.

Apa yang bisa dipelajari?

Bekerja di jaman ini berarti mencari kekuatan kita dan fokus dalam mengasah kekuatan itu sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

Menjadi Remarkable.