“the lizard brain”: mengapa saya sering emosi saat menyetir?

October 8, 2011

dalam pencarian mencari jawaban kenapa banyak perusahaan dan individu yang hebat tapi kinerja-nya biasa saja, saya sampai pada banyak pengalaman dan literatur yang menunjuk salah satu akar masalah ada pada bagian kecil di kepala kita: amygdala atau the lizard brain.

penelusuran lebih lanjut dalam buku bagus (recommended) yang berjudul Crucial Conversations malah membantu saya mengerti kenapa perilaku saya saat menyetir di jakarta seringkali memalukan mendekati kampungan…

terus terang saja, saya dan istri tidak terlalu sering berdebat panas, kecuali pada saat menyetir. Dulu saya sering tidak sadar bahwa perilaku agresif saya saat menyetir bukan hanya konyol tapi juga berbahaya. Sampai beberapa saat lalu, saya bahkan menganggap emosi dan agresivitas saya sebagai reaksi balasan yang wajar akibat tindakan “musuh” saya di jalan.

Sebagai gambaran, sebagai orang yang pada dasarnya cukup sabar (ehem ehem), saat menyetir saya seringkali sampai membuka jendela (menantang “musuh”), mengejar mobil lawan sampai ke jalan yang  seharusnya bukan rute saya, mem”bully” dengan lampu besar & klakson…. sampai yang ekstrim: menabrak motor yang sebelumnya menabrak spion mobil saya sampai pada hampir adu jotos di jalan macet dekat tanah kusir…:(

Terus terang saja, bagi saya itu adalah the fun part😉 masalahnya, istri saya selalu menentang (of course!) setiap kali saya dalam kondisi emosi dan agresif seperti itu. Jadilah sepanjang jalanan diisi dengan omelan dan debat panas, that’s the NOT fun part heheheheqqq

Nah dalam buku yang saya sebut dijelaskan bagaimana kita, manusia, akan bereaksi dalam “situasi yang mengancam” kita.

Pada dasarnya saat indra kita menangkap sinyal “ancaman”, apapun itu bentuknya, termasuk saat sebuah mobil norak mencoba memotong antrian kita masuk gerbang tol, maka kelenjar adrenalin akan mulai memompa hormon-hormon itu lebih banyak untuk meningkatkan aktivitas organ-organ vital terutama jantung dan paru-paru (ditandai dengan detak jantung dan nafas yang lebih cepat). Saat adrenalin mulai menguasai kepala kita, otak manusia pada hakekatnya berhenti berfungsi, dan diambil oleh “auto pilot” yang dikendalikan otak primitif kita yang bertanggung jawab terhadap refleks dan survival manusia: the lizard brain.

Apa artinya?

Artinya, dalam keadaan emosi, pikiran manusia sama primitif-nya dengan (maaf) kera ataupun reptil 🙂

Jangan heran jika manusia dalam keadaan emosi dan gelap mata, pasti lupa rasio, logika, dan etika (apalagi agama), mengingat memang otak yang menyimpan memori itu sedang tidak berfungsi.

Dalam keadaan emosi, manusia hanya mempunyai 2 pilihan: VIOLENCE dan SILENCE tergantung situasi lawan.

VIOLENCE atau marah/mengamuk merupakan reaksi alami saat emosi dimana lizard brain akan memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih banyak ke otot terbesar manusia yakni kaki dan tangan dibanding otak. Ini adalah reaksi jika kita merasa “musuh” kita dapat kita atasi.

SILENCE atau diam/menghindar adalah reaksi saat emosi jika “musuh” jauh lebih besar/kuat dibanding kita.

Dan mengapa ini penting?

Dalam perjalanan saya sebagai konsultan, saya mulai memahami bahwa kinerja seorang individu, sebuah team, sebuah organisasi seringkali tidak mencapai target karena faktor VIOLENCE atau SILENCE tadi, jadi bukan hanya masalah teknis, skill atau knowledge.

Pernahkah anda dalam kondisi emosi tinggi berdebat dengan kolega anda dan saat berdebat anda “lupa ingatan” sehingga yang terjadi adalah ngotot-ngototan untuk memenangkan debat dan lupa TUJUAN awal dari debat itu? Saya sering terjebak kondisi ini.

Pernahkah anda mempunyai atasan yang menggunakan taktik bullying untuk memastikan anda menyelesaikan tugas, tidak perduli anda setuju atau tidak dengan caranya. Saya pernah.

Pernahkah anda akhirnya memilih diam karena bos anda menilai pendapat anda “stupid idea” padahal anda yakin itu adalah ide yang jauh lebih baik dari ide bos itu? Saya juga sering memilih jadi “yes man”, yang penting cari selamet dulu.

Pernahkah anda lari menghindar dari rekan kerja anda yang menurut anda karakternya sangat mengganggu?

Jika anda pernah mengalami itu, tentunya kita sama-sama mengerti bagaimana emosi dan insting primitif manusia menjadi hambatan besar kita semua mencapai prestasi yang kita inginkan.

Advertisements

“the lizard brain” dan mengapa kita (sering) takut berbuat benar

September 29, 2011

belakangan ini saya dihantui pertanyaan-pertanyaan ini:

mengapa kita, orang Indonesia, susah sekali melakukan hal- hal sederhana yang semua orang tahu itu merupakan tindakan yang benar?

mengapa banyak orang masih parkir di tempat yang ada tanda dilarang parkir?
buang sampah di tempat tanda di larang buang sampah?
menyalip dari sebelah kiri di jalan tol, padahal hampir tiap 500 m ada larangan menyalip dari kiri?

 

 

dan tentu saja kita adalah Bangsa yang membuat kalimat “katakan tidak pada korupsi” menjadi bahan lelucon di berbagai situasi…

singkatnya, ada jurang besar antara KNOWING dan DOING. antara TAHU dan MELAKUKAN

kenapa ini menjadi pertanyaan yang mengganggu saya?
karena semakin saya banyak berinteraksi dengan perusahaan yang sedang memperbaiki kinerjanya, semakin saya yakin bahwa kinerja belum baik bukan karena manajemen dan karyawan tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena tidak melakukan hal-hal mendasar yang seharusnya dilakukan.

disamping itu, dengan bertambahnya usia, saya makin khawatir dengan daya saing negara kita yang masih berada diranking bawah serta hutang luar negeri yang makin menggunung.

banyak hutang artinya kita terlalu banyak berbicara dan berwacana dibanding hasil karya nyata!

sekali lagi, ada gap antara KNOWING dan DOING.

the lizard brain: sumber  ketakutan  dan resistansi

dari pencarian saya, saya mendapatkan temuan menarik yang diutarakan oleh banyak tokoh, dari Ed Deming, Bob Sutton/Jeff Pfeffer, dan tentu saja Seth Godin.

Menarik untuk diketahui bahwa inkonsistensi kita, mengetahui hal yang benar namun tetap melakukan hal yang salah, tidak lain disebabkan oleh rasa takut.

Pernahkah kamu berniat melakukan tindakan yang menurut kita benar, namun ada suara di kepala kita yang mengingatkan kita untuk “hati-hati, jangan sampai kita ditertawakan orang”, “ide bagus, tapi kayaknya sekarang belum saatnya” ?

Ada sebuah bagian dari otak yang disebut amygdala, yang merupakan bagian otak yang ada sejak evolusi awal manusia. Bagian ini mengatur banyak naluri alamiah kita: marah, reproduksi dan terutama rasa TAKUT.

Amygdala  menyimpan memori manusia akan hal-hal yang bisa mengancam kelangsungan hidup manusia: api, ketinggian, binatang buas, ancaman musuh, dan lain sebagainya.

Ingin coba bungee jumping? Akan ada suara di kepala kamu yang mencoba mencegah kamu melakukannya.

Berjalan di tempat gelap sendirian? Bulu tengkuk kamu mungkin berdiri, karena bagian otak ini akan menyiapkan seluruh pertahanan dari kemungkinan ancaman dari belakang.

Seth Godin meyebut amygdala sebagai lizard brain. Karena ia primitif, menyebabkan kita stagnan dan menolak ide-ide baru. Lizard brain menuntut kita untuk selalu berlindung, menolak ide baru dan jangan mengambil resiko sekecil apapun.

Lalu apa hubungan lizard brain ini dengan knowing-doing gap?

Rasa TAKUT.

Pernah kamu ingin mengatakan hal yang benar kepada atasan kamu yang sedang meracau dan mengambil keputusan yang salah? Di saat kamu akan mengatakannya, ada suara di kepala kamu yang mencegah kamu. Dan kamu batal lalu memilih diam. Lizard brain menang.

Jika kamu anak sekolah, pernahkah kamu punya keinginan ingin mengisi waktu dengan belajar sendiri di kelas, namun ada suara di kepala kamu yang terus menerus mengingatkan untuk tidak usah belajar ditempat umum agar jangan sampai kamu ditertawakan teman-teman sekelas kamu?

Dan inilah sebabnya, kenapa sangat susah untuk melompat dari TAHU untuk menjadi MELAKUKAN.

Kita harus melawan resistansi pikiran kita sendiri.

Yang menjadi permasalahan adalah fakta bahwa banyak masyarakat dan negara di luar Indonesia sudah berhasil membangun budaya dan infrastruktur untuk mengalahkan si Otak Kadal ini, sedangkan kita di Indonesia belum.

Dan itu adalah masalah besar!

 

 

notes: posting ini berhubungan dengan slide Knowledge-based-Action