Your Weakness is Your Strength…..dan sebaliknya

December 30, 2011

Setelah membaca biografi Steve Jobs beberapa waktu lalu, saya baru tahu kalau pendiri Apple ini mempunyai kelemahan mencolok yakni tidak bisa multitasking dan mempunyai ego yang luar biasa besar..hampir lebih besar dari planet Jupiter:).

Oleh kalangan dekat seperti sahabat-sahabat dan keluarganya, Steve dikenal sebagai sosok yang suka memanfaatkan orang lain dan tidak kenal arti kata kesetiaan. Sejak sekolah sampai bekerja, ia juga dikenal sebagai orang yang tidak bisa mengerjakan banyak hal dan hanya mau mengerjakan hal-hal yang ia sukai saja.

Nah, ternyata seluruh kelemahan itulah yang menjadi kekuatan Steve membawa Apple sebagai perusahaan dengan brand yang luar biasa, dan dari segi inovasi sangat mencengangkan. Ketidakmampuannya untuk mengerjakan banyak hal, ternyata adalah sebuah kekuatan untuk fokus secara total untuk melakukan hal yang ia ingin wujudkan. Ego yang sangat tinggi membuat ia ingin menghasilan karya yang menurut kata-katanya “bisa meninggalkan jejak di semesta ini”, hanya mau menghasilkan sesuatu yang bisa menyamai masterpiece karya para seniman dunia. Sebagai CEO, pria yang sangat menggemari Bob Dylan ini, tidak seperti para CEO lain yang banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal berbau formalitas serta rapat-rapat rutin perusahaan, Steve Jobs banyak menghabiskan waktu dengan para engineer dan desainer Apple. Ia dikenal sebagai seorang yang luar biasa control freak untuk memastikan produk Apple baik hardware dan software memberikan pengalaman luar biasa bagi penggunanya.

Ternyata kelemahan kita, apapun itu,bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.

Kesimpulan ini setelah saya coba pikirkan lagi ternyata sangat relevan dengan pola kekuatan-kelemahan perusahaan-perusahaan dimaa saya pernah bekerja/berinteraksi. Sebuah perusahaan yang menurut saya mempunyai ritme/pace yang agak slow dalam pengambilan keputusan termasuk juga sangat lambat dalam jenjang karir, setelah saya amati ternyata menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lebih bijak (karena dipilih dan diseleksi secara hati-hati), punya value yang bagus sesuai value perusahaan serta menghasilkan bisnis yang sustainable.

Perusahaan lain yang saya juga cukup familiar mempunyai kelemahan cukup besar dalam leadership karena banyak mengandalkan headhunter dalam merekrut (alias membajak) para eksekutif untuk menghasilkan perubahan dan keuntungan secara cepat. Model seperti ini menghasilkan pola kepemimpinan yang sangat dinamis (kadang-kadang terlalu dinamis) dengan gaya yang biasanya lebih “kejam” yang sering tidak sesuai dengan value perusahaan itu sendiri, banyak intrik politik dan menuntut para anak buah untuk bekerja ekstra baik dalam menggunakan otak maupun waktu untuk bekerja sampai pagi.

Nah, perusahaan inipun menurut saya juga menghasilkan kekuatan yang luar biasa dalam hal kecepatan suatu bisnis untuk menghasilkan profit. Disiplin yang lebih bagus serta ketaatan akan komitmen deadline (karena kalau meleset dijamin kuping panas atau “ditendang” dari kursi kita) menjadikan perusahaan ini bisa berkompetisi dengan sangat efisien. Oleh karenanya, perusahaan ini bisa membayar lebih para eksekutifnya sehingga mampu menarik oang-orang yang bagus di industrinya.

Kesimpulannya, baik bagi personal maupun organisasi, kelemahan dan kekuatan adalah satu paket yang sangat tergantung bagaimana kita bisa membalance-nya. Orang China mungkin menyebutnya Yin-Yang, kalau orang Bali menyebutnya Rwa Bhinneda.

Dalam kekuatan selalu ada kelemahan, dalam kelemahan selalu ada kekuatan.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

at 4-year old, ALL of us were as innovative as Steve Jobs

March 2, 2011

I found this piece on Innovator’s DNA from a book my wife picked titled Brain Rules for Baby by John Medina (it’s a fun read!)

This Innovator’s DNA is a result of an extensive research performed by Hal Gregersen, et al., after studied more than 3,000 innovative executives for six years.

In sumary, here are the 5 characteristics of an innovator:

1. An ability to associate creatively

2. An annoying habit of consistently asking “what if”; and “why not”

3. An unquenchable desire to tinker and experiment

4. Great at specific kind of neworking; they are attracted to smart people

5. They closely observed the details of other people’s behaviors

According to Gregersen, all of them can be summarized into one word: INQUISITIVENESS

But the most interesting one, here I quoted directly frm the book that the lead author of the study continues his statement:

“If you look a 4-year-olds, they are constantly asking questions. But by the time they are 6 1/2 years old,they stop asking questions because they quickly learn that teachers value the right answers more than provocative questions. High school students rarely show inquistiveness.

And by the time they’re grown up and are in corporate settings, they have  already had the curiosity  drummed out of them. Eighty percent executives spend less than 20% of their time on discovering new ideas”

Therefore, for all young and eager mind out there, I think it’s appropriate to close this posting with Steve Jobs’ message in the end of his speech at Stanford 2005 graduation:

stay hungry. stay foolish