Ada apa dengan Toyota? (the danger of executives’ obsession to Growth)

July 14, 2011

Dalam beberapa diskusi, terutama berkaitan dengan betapa hebatnya prinsip Toyota Production System (TPS) sebagai dasar dari Lean Thinking, banyak partner diskusi saya bertanya-tanya, jika TPS sedemikian bagus, kenapa sejak 2009 terjadi krisis recall di Toyota yang mengakibatkan kerugian besar bagi Toyota serta menurunnya persepsi terhadap Toyota sebagai produsen mobil berkualitas tinggi?

Apakah semua berita tentang Toyota sebagai pionir dalam quality management hanyalah isapan jempol belaka?

Robert Cole, seorang professor di MIT menulis artikel yang menurut saya sangat bagus dalam memaparkan apa yang terjadi dengan Toyota. Artikel asli ada di link ini.

Saya mencoba untuk membuat semacam kesimpulan pendek dari artikel tersebut, tentang kenapa Toyota mengalami krisis recall:

Obsesi untuk Tumbuh cepat  menjadi no 1 di dunia

Sejak tahun 1995, CEO Toyota saat itu yang bernama Hiroshi Okuda mencanangkan target  yang ia sebut sebagai “Visi 2005”. Visi ini menargetkan dalam 10 tahun, market share  Toyota di dunia harus meningkat dari 7.3% menjadi 10%.  Dengan modal sumber daya manusia, manajemen dan teknologi, target tersebut mereka bisa capai hanya dalam 3 tahun! Tidak puas sampai disitu, Toyota meletakkan target lebih aggressive lagi untuk mencapai market share 15% pada tahun 2005.

Walaupun pertumbuhan adalah hal yang bagus buat dikejar, namun apa akibatnya buat Toyota?

Melihat lagi ke belakang, menurut Rober Cole dalam artikelnya, banyak eksekutif Toyota yang mengakui bahwa pertumbuhan bisnis mereka melampaui kemampuan mereka untuk mengelola.

Banyak prinsip-prinsip dasar Toyota Way yang mereka tabrak sendiri, seperti misalnya memperkerjakan karyawan/insinyur kontrak yang tidak sempat mengalami proses penyerapan budaya Toyota, berubahnya hubungan jangka panjang dengan supplier dalam mengejar pertumbuhan, sampai kepada tumbuhnya organisasi yang mengakibatkan barrier dalam komunikasi (karyawan berbahasa Jepang vs. yang tidak). Semua itu sedikit demi sedikit, tanpa disadari, menggeser prinsip-prinsip konservatif Toyota Way diganti dengan “Growth” sebagai tujuan utama.

Seperti yang banyak terjadi di perusahaan lain, ketika suatu perusahaan berlari terlalu kencang, maka aka nada “harga” yang harus dibayar, pada kasus Toyota harga itu adalah kualitas produk mereka; sesuatu yang sebenarnya menjadi kebanggaan Toyota di masa lampau.

 

Produk yang semakin banyak dan semakin rumit

Di pasar Amerika saja, jumlah produk Toyota mengalami kenaikan dari 18 model menjadi 30 diantara tahun 2000-2007. Bertambahnya jumlah model tentu saja menaikkan tingkat kerumitan dalam desain, teknologi, materials, manufacturing sampai pada distribusi.

Selain jumlah yang makin banyak, juga terjadi kenaikan tingkat kerumitan dengan teknologi yang semakin maju misalnya teknologi mesin hybrid maupun drive by wire, mengemudi dengan perangkat elektronik yang semakin canggih.

Tidak heran, recall paling banyak terjadi pada produk Toyota Lexus dan Prius.

Kombinasi pertumbuhan yang terlampau cepat dan kompleksitas portfolio (saja) sudah cukup mengakibatkan perusahaan sehebat Toyota menjadi goyah dalam kompetisi yang serba cepat ini.

Mungkin buat para eksekutif, ada bagusnya untuk mengambil pelajaran dari contoh ini. Majulah dengan seimbang….in harmonia progresio

Saya merekomendasikan untuk membaca artikel dari Robert Cole ini, karena selain hal-hal diatas ia juga mengulas pengaruh media terhadap persepsi pasar, juga tingginya tekanan pesaing Toyota yang  menghasilkan produk-produk yang kualitasnya semakin bagus (Hyundai, Kia, Chevrolet,dll).

Advertisements

from leverage point blog:How Toyota Ran Off the Road–and How It Can Get Back on Track

January 24, 2011

a good artice by H. Thomas Johnson, please click/visit leverage point blog

very recommended!